SIAK INDRAPURA


Setiap browsing tentang wisata pekanbaru yang pertama muncul selalu istana Seri Indrapura. Tiada heran aku beranggapan istana itu berada dalam kota Pekanbaru. Seperti halnya Istana Maimun di Medan atau Keraton Jogja di Yogyakarta. Rupanya ini tidak dalam kota Pekanbaru, tapi di Kabupaten Siak, berjarak kurang lebih 100 km dari Pekanbaru.

Sebelumnya aku berencana solo traveling, namun ternyata ada rekan kerja yang ingin ikut. Kami berangkat pukul 08.00 denga tujuan awal mencari sarapan Miso khas Pekanbaru. Sayang, yang kami cari tidak buka pada hari Minggu sehingga kami memutuskan mencari sarapan searah jalan menuju Siak. Kami sarapan Lontong Sayur di RM Roda Baru yang berada di pertigaan pertemuan antara jalan Lintas Timur Jambi – Riau dan Jalan Simpang Beringin – Meredan.

Kami melanjutkan menyusuri Jalan Simpang Beringin – Meredan. Kiri kanan terhampar kebun kelapa sawit. Sekejab teringat kebakaran ‘rutin’ hutan  di setiap musim kemarau Pekanbaru. Ada tanya dalam benak, karena kesengajaan atau alami ? 11.20 hampir  menyeberangi sungai Siak melalui  Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Jembatan ini  seperti gerbang masuk kota Siak. Dan beberapa menit kemudian kami sampai di Istana Sri Indrapura.

SIAK INDRAPURA

Jujur tempat wisata ini melampui ekpektasi ku. Komplek Istana kecil ini cukup bersih dan terawat. Di depan istana terdapat tanah lapang berumput hijau , kalau di Jawa bisa disebut alun – alun. Mengarah lebih ke depan terdapat lahan terbuka berlantai keramik dengan sebuah monument lambang Kesultanan Siak dan susunan Huruf besar “ Sri Indrapura “ yang menghadap sungai Siak. Monumen Kesultanan Siak ini dilengkapi relief yang bercerita  tentang perjalanan hidup Sultan Syarif Kasim II sejak sebelum naik tahta hingga penyerahan Kesultanan Siak ke pangkuan NKRI pada 28 Nopember 1945.

Lambang Kesultanan

Sebelum masuk ke Istana kami terlebih dahulu ke Masjid kesultanan sekalian Absen, karena waktu Dhuhur telah tiba. Di sisi Barat masjid tersebut terdapat bangunan makam Sultan beserta keluarga .

Masjid Kesultanan Siak

Usai sholat kami menuju Istana. Istana  yang bernama Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur ini berlantai dua. Arsitekturnya memadukan gaya dari tiga budaya: Eropa, Arab, dan Melayu. Istana Siak ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaiffudin pada 1889.

Tampak Depan
Tampak Samping

Masuk pada ruangan pertama kita disuguhkan koleksi busana yang terpasang pada manekin. Di sayap kiri pada beranda beberapa Meriam dipamerkan. Selain itu perabotan pecah belah disajikan rapi di ruangan sayap kirim. Untuk ruangan Sayap kanan tertata seperti ruangan perjamuan atau pertemuan. Sedangkan lantai atas yang bisa diakses melalui ruangan bagian belakang menggunakan tangga spiral dulunya untuk tempat istirahat. 

Taman

Sebelum kembali ke Pekanbaru kami sempatkan megunjungi lebih dekat Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah dari bawah. Ternyata di area bawah jembatan yang memiliki nama dari Permasuri  Sultan Syarif Kasim II ini digunakan sebagai area terbuka hijau.

Jembatan Sultanah Agung

Selepas Ashar dan makan Soto Bening kami pun Kembali ke Pekanbaru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s