Papandayan Crater


Ku mulai perjalanan pukul 14:10. Dengan sepeda motor  aku menuju ke arah selatan, arah Cikajang. Gunung Cikuray yang mengerucut bak piramida alam seakan memanggil jiwaku untuk menjilat puncaknya. Namun tidak untuk hari itu. Hari itu aku akan mencoba membuktikan cerita – cerita keindahan Gunung Papandayan yang kawah sudah terlihat dari Kota Garut.

Sendirian berbekal petunjuk dari rekan kantor, aku menuju Desa Cisurupan, kaki Gunung Papandayan. Dengan kecepatan rata – rata 50 km/jam, dari Kota Garut sampailah aku di persimpangan Cikajang – Papandayan. Persimpangan dengan lalu lintas yang lumayan padat. Memang di situ terdapat Pasar Cisurupan yang masih mengayuh nadi perekonomian warganya. Angkudes juga Elf  tanpa peduli berhenti begitu saja mencari penumpang. Truck pun menjejali jalan utama Garut – Cikajang – Pameungepuk dengan deru knalpot yang membuat sesak jantung.

Selepas dari persimpangan itu jalan mulai menanjak. Ku pacu motorku di jalan aspal yang lumaya bagus. Beberapa menit kemudia jalanan menjadi terjal. Jalan rusak. Sempat membuatku ragu , mana mungkin tempat wisata yang begitu terkenal jalur transportasinya seperti ini. Ku lanjutkan saja perjalananku. Jalan semakin kecil ( hanya selebar 1 mobil), menanjak, berkelok dan sepi. Ini khan musim liburan, sepi banget. Aku semakin menjauh dari pemukiman, tidak ada lagi rumah hanya pepohonan ilalang yang tinggi. Beberapa kali kutemui warga yang selesai memanen kentang dan memotong rumput, tapi aku enggan bertanya. Hanya 5 km dari gerbang Cisurupan, deket banget , itu kata rekan kerjaku, tapi … Akhirnya kuputuskan bertanya. Teras wae, A’…….. Sip.

Beberapa menit kemudian terlihat gerbang. Gerbang tiket pikirku, tapi ternyata kosong. Damn, beneran nih ? Kuputuskan untuk tetap melanjutkan laju motorku. Di depan, kepulan asap putih terlihat menjulang. Dan akhirnya terlihat posko. Dengan hanya IDR 3000 (tiket hanya untuk kunjungan ke kawah, tidak camping) aku memasuki area parker G. Papandayan.

Camp David namanya. Sebuah check point sebelum melintasi kawah. Awalnya kupikir G. Papandaya ini seperti Kawah putih atau Gunung tangkuban perahu. Ternyata tidak, main attraction nya tidak hanya kawah tapi juga rute pendakian menuju puncak.

Dengan hanya berbekal air minerak 500ml, sendirian  ku lintasi kawah . Jadi teringat film yang malam sebelumnya ku tonton , 127 hours, tapi aku cuman mentarget 127 minutes saja :p.

Aku lintasi vegetasi akhir Papandayan, menuju kaldera. Dinding kaldera adalah cadas raksasa yang terkelupas paksa oleh proses geologi.   Curam, keras, begitu anggun namun rapuh seperti hati perawan yang tidak berkeyakinan kuat tentang cinta. Ini seperti tanah kematian. Hanya bebatuan seluas memata memandang. Terjal meski tidak seterjal kehidupan manusia, namun cukup untuk menguji seberapa hebat kemampuan fisik dan rasa penasaran kita tentang keindahan yang telah di pahat oleh alam.

Aliran sungai dengan air yang keruh dan asam membasahi batuan andesit. Sumber ion yang terdiri atas Na, Mg, Fe, Al tercipta karena interaksi itu, termasuk unsur-unsur jejak seperti Zn, Pb, Ti, dan Cu.

Semakin memasuki area kawah aroma belerang semakin pekat. Untung sejak dari tadi aku tidak melepas slayerku. Aktivitas vulkanik terlihat dari suara gelegak yang melepaskan gas HCl, NH3 dan CO2. Tak lama kemudian kutemukan cekungan besar. Mungkin ini kawah lainnya. Di dalamnya terbaca susunan batu (secara sengaja) yang membentuk nama. Jadi teringat kawah mati di Lawu.

Kembali aku terlusuri jalan setapak. Katanya kawah ini bias dikelilingi, ingin kucoba. Namun jalur yang kutemui malah membelakangi kawah. Disini kutemui tanang lapang dengan rerumputan hijau yang bagus. Indah. Kutelusuri jalan setapak hingga akhirnya aku berhenti di tubir jurang. Tidak ada jalan lagi. Sudah habiskah ? Tidak mungkin. Pukul sudah empat sore lewat .

Setelah kuamati ada jalan menurunin bukit kemudian menyambung ke bukit seberang.Aku sendirian tidak ada orang yang bias ditanya. Beberapa menit kemudian terlihat 4 orang pendaki, aku pun bertanya. Mereka tidak mengetahui jalan untuk mengelilingi kawah. Tidak ada malah menurut mereka. OK kuputuskan kembali saja. Kemudian aku kembali bertemu satu rombongan lagi. Kembali aku bertanya jalur itu (termasuk jalur puncak). “Mas ngecamp ?”, “ Sendirian ? “ Ke puncak sorean gini ? “ “Saya usulkan jangan A’, kecuali kalo ngecamp dulu kaya kami” “ ini dah kesorean” bla bla bla….. Saat itulah aku baru tahu kalo ada pos Pondok Selada dan Tegal Alun sebelum  menuju puncak. Akhirnya kuputuskan membatalkan menikmati sunset di puncak. Toh aku memang niat tidak ngecamp dan hanya berbekal air mineral 1500ml saja.

Dalam kabut yang mulai turun. Mentari pun tidak kuasa menembusnya. Dingin mulai menggores tulang. Sejenak sempat kulihat dinding kaldera seperti berlapis emas ketika sinar mentari menabrak dinding itu.

Kawah dan Gunung bagai sajadah

Dimana jemari Tuhan membela jantung

Mencoba bisikan satu pesan

Bahwa Dia selalu mencoba mendekatiku,

Aku yang tiada jarang memilih menjauhi-Nya

 

Kawah dan Gunung bagai sajadah

Dimana Cinta, gelisah bermunajat

Dimana Nyali sudi berdoa

Dimana logika dan kesabaran dipaksa,

Dipaksa menelaah dengan nurani

Bahwasanya keberhasilan dinilai bukan dari bagaimana kita memulai

Namun bagaimana kita mengakhiri

Kunyalakan motorku dan kembali menyusuri jalanan sepi berpacu dengan gelap malam. 18.00 WIB sampailah aku di kantor……..

Thank God

Advertisements

2 thoughts on “Papandayan Crater

  1. Sungguh alam yang sangat indah dan masih murni. Selamat telah merekam semuanya, ya! terima kasih telah menyajikan foto2 memukau! Salam, RA.

  2. Hal yang sangat indah ketika kita merasa lebih dekat dengan Tuhan dan menikmati keindahan alam yang secara nyata…

    Papandayan crater & is The true beauty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s