Aroma Kematian


behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

Mendung tak selamanya berarti hujan, tapi memang mendung adalah salah satu pertanda akan datang hujan. Banyak pertanda-pertanda disekeliling kita namun terkadang kita tidak memperhatikannya. Namun permasalahannya adalah kita sulit membedakan apakah ini pertanda ataukah bukan.

Gagak di LCCTSetelah cukup puas makan di food garden bandara LCCT Malaysia, sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke bandara Suvarnabhumi di Thailand, kami duduk-duduk dipelataran luar tempat orang-orang menunggu bus. Suasana cukup panas namun kadang angin sepoi-sepoi berhembus. Lagi enak-enaknya tidur-tiduranan (sambil duduk), ada suara cukup ramai yang membuat kita terbangun. Suaranya “Wok…wok…wok…”. Ternyata ada dua ekor burung gagak hinggap diatas atap disekitar kita. Dan kemudian kejar-kejaran satu sama lain. Hinggap lagi disekitar kita. Dan seterusnya. Photagrapher kami, Son dan Ervan tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil photonya. Jarang-jarang ada burung gagak di kota. Di gunung saja kita jarang menemui, bahkan sepertinya tidak pernah.

Kisahpun berlanjut. Jalan-jalan di Chatuchak Park, Bangkok, Thailand. Walaupun sebetulnya kami tidak sengaja ketempat tersebut. Semua akibat kami salah membaca peta yang terpampang dipintu keluar MRT. Tujuan kami sebenarnya adalah menuju Chatuchak Weekend Market yang sebetulnya berada disebelah kanan kami, namun karena kami (saya lebih khususnya) salah membaca peta sehingga kami berjalan kearah kiri, dan melewati taman tersebut (baca: Chatuchak Park). Taman tersebut cukup nyaman untuk dinikmati karena memang terawat, indah dan bersih. Suatu saat ketika kami lagi enak berfoto-foto diatas pohon terdengar suara “Wok…wok…wok…”. Ternyata ada burung gagak bertengger. Wah, bukan cuma di Kuala Lumpur ternyata, di Bangkok pusat kota ada juga burung gagak.

Berikutnya. Di Wat Phrathat Doi Suthep. Tempat ini adalah kuil yang berada di gunung Doi Suthep di Chiang Mai, Thailand. Selain tempat ibadah bagi umat budha disana, tempat ini adalah salah satu obyek wisata yang paling dijual oleh pemerintah setempat. Banyak sekali wisatawan mancanegara yang datang ketempat ini. Untuk orang asli thailand tidak dikenakan biaya masuk, namun bagi wisatawan mancanegara dikenakan biaya masuk sebesar 30 Bath per orang. Sekali lagi, ketika enak-enaknya jalan-jalan disekitar kuil terdengar lagi suara “wok…wok…wok…”. Ada burung gagak lagi. Karena ini digunung dan dikuil, kami berpikir cukup dimaklumi ada burung gagak. Walaupun bingung juga apa hubungannya.

Selanjutnya. Sehabis puas berphoto dengan patung Merlion simbol negara Singapore, kami melanjutkan ketarget selanjutnya yaitu Raffles Landing Site yang berada tidak jauh dari sana. Disekitar sana berdiri bangunan-bangunan dengan gaya klasik yang cukup elegan dipadu dengan taman-taman dengan pepohonan yang cukup rindang. Dan betul, kami mendengar lagi suara burung gagak (dan tentu saja juga melihat batang moncongnya) ditaman dekat Anderson Bridge. Di Victoria Theatre kami mendengar dan melihat lagi. Dan didekat Raffles Landing Site juga.

Terakhir. Di Johor Bahru, Malaysia kami sepertinya mendengar lagi suara merdunya.

Pertama mungkin biasa saja. Namun karena sesering itu bertemu dengan burung gagak, kadang pikiran kami menjadi berfantasi macam-macam. Apakah kami membawa aroma kematian?

Gagak is everywhere or gagak is following us?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s