Being Nowhere


behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

Ibarat dijatuhkan dari langit ditengah-tengah kota. Kota besar, diluar negeri, masih pagi gelap gulita lagi. Seperti orang buta. I am blind……

Begitulah kalau datang kesebuah kota tapi tidak mendarat di public transportation place (bandara, terminal, pelabuhan, stasiun, dll). Berangkat dari George Town, Penang menuju ibukota Malaysia, Kuala Lumpur naik bus dengan asumsi akan turun diterminal di KL sana. Dan dari terminal kita baru akan berburu angkutan menuju tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Kenyataan bercerita lain. Masih enak-enak tidur lelap di bus, kondektur berteriak “KL…KL…”. Penumpang bus pun bangun dan langsung bergegas turun. Dengan nyawa yang masih separuh (biasa ketika bangun tidur dengan cara dikagetin kecerdasan belum kembali), kitapun ikut-ikutan turun. “Wah sudah nyampe nih”. Turun dari bus yang menyambut supir-supir taksi. Lihat-lihat sekeliling, bukan terminal ini. Busyet, dimana ini. Kita diturunkan diperempatan besar, sepertinya dipusat kota, tapi memang tempat untuk men-drop penumpang sepertinya. Daripada kelihatan kaya orang bego, langsung saja angkat backpack dan pergi kepinggir jalan, tempat penumpang-penumpang lain menunggu jemputan. Bingung juga mau apa dan kemana. Mantos dan edo yang paling seger kondisinya, survey lokasi (survey toilet sebenarnya). Dan untunglah tidak jauh diseberang jalan sana ternyata memang ada terminal, walaupun bukan terminal utama seperti yang telah kita browsing sebelumnya.

Di Singapore lebih parah lagi. Kami dari Kuala Lumpur menuju Singapore naik bus. Penumpang di drop didepan semacam plaza. Dan kali ini lebih pagi lagi. Jam tangan menunjukkan pukul 4.00 AM waktu Singapore. Sebagai informasi, subuh disana pukul 5.34 AM. Suasana sepi sekali. Kalau dilihat-lihat dari poster-poster yang menempel memang sepertinya plaza ini pusat agensi bus Malaysia-Singapore. Tapi jam segitu mana ada orang. Dan sekali lagi, yang menyambut kami – dan penumpang lain tentunya – adalah para supir taksi. Sebagai backpacker kere seperti kami, taksi adalah hal yang tabu. Karena memang tidak punya uang berlebih tentunya. Jadi yang dilakukan tetaplah sama, angkat backpack, cari tempat untuk duduk yang nyaman dipinggir jalan, mengembalikan kecerdasan, dan beraksi. Sedikit paket bantuan hanyalah kertas print google map untuk secuplik wilayah singapore dan berharap tempat kami berada masih tercakup didalam peta tersebut. Ervan dan Purwo memulai perburuan lokasi untuk mengetahui apa nama jalan ini dan jalan sekitarnya untuk memudahkan mapping. Saya dan Son juga ikut membantu. Setelah ketemu kemudian tinggal melotot diatas print map dan mencari lokasi. Dan ketemu. Ternyata keberuntungan tidak cukup disitu. Lokasi kami saat itu tidak terlalu jauh dari hostel tempat rencana kami menginap. Cukup manusiawi untuk ditempuh dengan jalan kaki walaupun dengan gendongan dipundak.

Tidak ada keberuntungan didunia, semua memang adalah rencana-Nya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s