PAPANDAYAN (1) : Puncak Fiktif


Semeru ada lah gunung terakhir yang aku daki. Pendakian itu kulakukan di tahun 2012 saat putraku baru berumur 2 bulan. Yup sudah 2 tahun lebih. Kerinduan pada suasana dinginnya gunung dan canda tawa bersama sahabat pun terasa mulai menghimpit. Lagipula nama Tambora selalu terngiang menusuk kalbu sejak turun dari Rinjani di Senaru tahun 2011. Seiring rencana pendakian Tambora bulan Maret 2015, munculah wacana warming up.

Kamis malam , 8 Januari 2015, Mantos menghubungiku via WA, kalo dia ada acara di Jakarta. Sekelabat muncul ide , bagaimana jika mendaki Papandayan hari Sabtunya. Cintapun bersambut. Kami pun deal untuk mendaki Papandayan hari Sabtu turun Minggu pagi. Ardi ( adikku) pun kuajak, aku ingin memperkenalkan dia tentang kegiatan outdoor , sekedar mengisi waktu luang di liburan kuliah.

Jumat, 9 Januari 2015

Jam 14.00 lebih sekian menit aku cabut dari kantor Babelan menjemput adikku di kontrakan. Saat itu kebetulan adikku sedang menunggu lemari display action figure dan gundam yang ku pesan akhir 2014. Jam 15.00 aku sampai langsung packing. Entah mengapa kemarin malam aku tidak meluangkan waktu sejenak untuk packing. Sampai packing selesai, lemari yang ditunggu – tunggu ga datang juga, sedangkan dering telephon dari Mantos sudah meraung – raung minta dijemput. Setelah memastikan penundaan pengiriman kami berdua pun berangkat ke MM Bekasi menjemput Mantos.

Jam 18.00 Sore kami bertiga sudah berkumpul, langsung masuk Tol Cikampek menuju Bandung. Sempat berhenti di Rest Area KM.77 untuk makan di RM. Ciganea, kemudian lanjut ke Bandung dengan mantos yang ganti dikursi sopir. Jam 21.00

Sabtu, 10 Januari 2015

Kita start dari kontrakan mantos tepat setelah subuhan, 04.45. Tidak ada halangan kami sampai Kota Garut 06.35, langsung sarapan nasi kuning di Jalan Ottista. Selesai sarapan langsung menuju ke Desa Cisurupan. Di depan SD Cisurupan kami berhenti menunggu Kang Iyan. Kang Iyan adalah rekan kerja saya selama di Pameungpeuk. Saya minta bantuan beliau untuk mengantar ke Papandayan, karaena kawatir mobil tidak bisa menginap di parkiran.

08.30, Kang Iyan datang , perjalanan dilanjut hingga parkiran Wisata Papandayan. Dalam perjalanan itu kusempatkan tidur karena tadi pagi cumin aku yang ga tidur karena nyetir. Tapi ternyata Mantos dan Ardi pun masih juga tidur. Hanya 15 menit sampai juga di parkiran. Setelah mencari info dan melakukan registrasi pendakian kami pun bersiap. Alhamdulillah parkiran buka 24 jam, so Kang Iyan bisa istirahat di weekend yang cerah.

Pondok Selada

1810 mdpl, 09.15 WIB, kami bertiga mulai menjejakkan langkah menuju Pos Pondok Selada. Sebenarnya ini adalah yang kedua kalinya aku ke Papandayan. Namun pada kesempatan pertama aku hanya sampai di kawahnya saja. Kali ini target adalah puncak.

Menyusuri Kawah

Menyusuri Kawah

Hingga 10.00 WIB , kami masih berkutat di kawah Papandayan. Memang spot ini sangat cocok untuk ambil foto. Beberapa rombongan sangat antusias ber selfie ria dengan latar patahan tebing dan gelegal asap belerang. Tanjakan demi tanjakan mulai menguras stamina. Nafas mulai tersenggal. Ah dasar ini karena jarang olah raga aja, pikirku.

Menikmati Air Sungai

Menikmati Air Sungai

10.15 kami mulai di track bervegetasi. Di jalur yang terus menanjak tak jarang kami bertemu pengendara motor cross. Menurut cerita kita bisa mencapai Pondok Selada menggunakan motor cross. Menjelang Pondok Selada terdapat pos lapor. Kita harus lapor dan “harus” bayar lagi. Aneh, tapi ya sudahlah tenaga saya sudah habis, ga ada sisa buat debat atau mempertanyakan. Kata petugas yang jauh dari sifat ramah dibanding petugas di perizinan awal ini , kami tidak boleh camping di Tegal Alun. Ditanya kenapa, jawabannya cuman ditutup. Ya sudahlah, kami lanjutkan saja menuju Pondok Selada. Dan Alhamdulillah tepat pukul 11.00 kami sampai di Pondok Selada. Tanpa babibu kami tetap melangkahkan kaki menuju Tegal Alun.

Hutan Mati, Puncak Imajiner dan “Tegal Alun”

Papandayan2015_03

Ga lebih dari 10 menit kami sudah bisa melihat hamparan pepohonan hitam kering dan tak berdaun. Kami juga melihat hamparan kecil edelweiss. Kami pun mengclaim ini pasti Tegal Alun. Hehehehe…. Meski tulisannnya ga ada. Dalam pikiran kami kalo di depan hutan mati berarti dikit lagi puncak. Yes !!! Tau gini langsung pulang aja lah.

Hamparan Hutan Mati

Hamparan Hutan Mati

Hutan Mati

Hutan Mati

Foto – foto, ceprat – cepret. Cukup lama kami menikmati hutan mati di bawah hujamnya duri nan teriknya matahari. Dengan sangat antusias kami pun bersiap menuju puncak. Sempat kami betanya pada sekelompok muda mudi tanpa tas carrier hanya dengan kamera dan gitar saja, dimana jalur menuju puncak. “ Deket A’, tinggal ikuti jalan ini aja “ OK, lanjut.

Kawah dari Puncak Fiktif

Kawah dari Puncak Fiktif

Begitu melihat sebuah bukit batu disamping kawah, kami mengira itu adalah puncak. Apalagi terlihat sebuah pos dengan foto cell. Tidak hanya mendaki tapi memanjatnya. Sangat terjal , berbatu yang rawan ditambah elevasi yang curam dan matahari yang terik. Meski begitu sampai juga kami di sebuah pos kecil itu. Bergaya dulu kaya teknisi PLTS. Memalukan juga. Tapi ga apalah.

Puncak Fiktif

Puncak Fiktif

Selepas bergaya kami melanjutkan pendakian. Eh ternyata setelah menerobos sana sini, pindah tanjakan sana sini, kami tidak menemukan jalur ke atas. Gimana nih ? masa puncak ga tercapai. Hampir setengah jam lebih kami berkutat di situ, akhirnya kita putuskan turun. Anggap saja kita sudah sampai puncak kata Mantos. Hahahaha………….

Butuh waktu tidak pendek kami turun. Tentu saja karena sangat curam dan berbatu. Sangat menguras tenaga. Sesampai di bawah kami pun menelusuri jalan setapak. Kami mulai menemukan tali raffia. Wah ini jalur puncak , antusias kami kembali menggelora. Tapi sebelum itu kami cari tempat teduh dan masak dulu.

Papandayan2015_09

bersambung ……………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s