DE GROTE POSTWEG : Cadas Pangeran


Senja jingga ternoda oleh erangan sebuah mesin tua. Di tanjakan yang menikung, Ciherang,  Mitsubishi-Hino 6×4 merah sedang berusaha bergerak dalam geraman dengan beban berat. Di belakangnya gerutuan para pengemudi  seakan gelombang resonansi yang liar. Erangan dan gerutuan itu bak gema abadi dari keluh kesah sunyi tertahan para pekerja yang membangun jalan itu dahulu kala. Jalan terpanjang pada masanya. Jalan yang tercipta dari genangan darah 12.000 para wajib kerja rodi,  De Grote Postweg.

Patung P. Kornel dan Daendels

Pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg)  ini merupakan buah pemikiran Daendels dalam menunaikan tugas utamanya sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, yaitu mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Ide tersebut terinspirasi dari Cursus Publicus , Jalan Raya Pos yang dibuat pada masa  Imperium Romawi. Pada masa kekaisaran Roama , Jalan Raya Pos tersebut menghubungkan Roma dengan kota – kota jajahannya sekaligus mengikatnya. Jalan – jalan ini sudah ada sebelumnya dan pernah digunakan Sultan Agung untuk menyerang Batavia pada tahun 1628 – 1629 namun karena kebutuhan khususnya pertahanan maka perlu “direnovasi”.

Di Sumedang, salah satu bagian dari rangkaian jalur Jalan Raya Pos Anjer – Panaroekan yang membentang dari Andawadak (Tanjungsari)  – Sumedang termasyur dengan nama Cadas Pangeran.  Jalur rawan longsor yang juga menghubungkan Bandung dan Cirebon ini mulai direalisasikan bersamaan dengan jalur Megamendung – Bandung , yaitu sejak Daendels mengeluarkan Instruksi 5 Mei 1808 yang terdiri dari 10 pasal tentang pembangunan Jalan Raya yang menghubungkan Buitenzorg (Bogor)– Karangsambung (Cirebon). Dalam  instruksi tersebut , ditentukan 150 orang tenaga kerja ( 5 ringgit perak/orang ) di lajur Parakanmuncang – Sumedang dan 150 orang tenaga kerja ( 4 ringgit perak/orang ). Pekerjaan tersebut harus dilaksanakan selama musim kemarau agar ketika panen dan mengurim hasil panen tidak terkendala jalan yang buruk. Tenaga kerja tersebut diambil dari luar daerah, sedangkan penduduk asli diberikan tugas meningkatkan produksi kopi koffie stelsel (wajib tanam kopi).

Jalan Baru Cadas Pangeran

Dalam pengerjaannya selain anggaran pembangunan yang terbatas ,terdapat kendala yang , khususnya jalur Parakanmuncang Sumedang, dimana perlu pemotongan lereng gunung ( Kerenceng dan Kareumbi ). Menyikapi kendala tersebut ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan Daendels yaitu :

  1. Perubahan besaran upah
  2. Menambah tenaga kerja sebanyak 500 orang
  3. Bupati menyediakan tenaga kerja wajib dengan upah yang murah

Kebijakan Kerja Paksa tersebut menimbulkan gejolak perlawanan. Pangeran Kusumadinata IX (Pangeran Kornel) memprotes kebijaksanaan Daendels, dimana beliau menyambut jabat tangan Daendels dengan tangan kiri. Peristiwa itu pun berlanjut pada peperangan yang akhir Pangeran Kornel gugur. Kisah tersebut hingga kini masih diperdebatkan kebenaran kejadiannya. Hal ini didasarkan tidak adanya arsip yang menyebutkan pertemuan antara Pangeran Kornel dengan Daendels, dimana tradisi administrasi colonial, setiap peristiwa penting yang berkaitan dengan pemerintahan pasti dibuatkan laporan. Meski begitu kisah yang berkembang secara lisan ini menjadi kebanggaan bagi warga Sumedang. Untuk mengenang keberanian itu telah dibuat beberapa karya yang salah satunya patung Pangeran Kornel yang sedang berjabat tangan kiri dengan Daendels di Simpang Cadas Pangeran. Tidak hanya itu , relief tentang kisah tersebut juga ada di bundaran Binokasih , landmark terbaru Sumedang.

Saat ini ruas asli Cadas Pangeran tidak lagi difungsikan jalan utama. Mungkin karena lebar ruas yang kecil untuk persimpangan kendaraan besar dan juga tanjakan yang terlalu curam. Karena itu dibangunlan ruas baru yang berada dibawah ruas lama, yang hingga saat ini menjadi jalan raya. Namun begitu jalan itu menjadi alternatif jalan untuk memangkas waktu tempuh.

Deretan Kios Cadas Pangeran

Sebelum memasuki simpang Cadas Pangeran terdapat deretan penjual umbi yang dulu menjadi ciri khas Sumedang, Umbi Cileumbu. Di belakang deretan tersebut terdapat pilar—pilar beton yang berdiri menancap agar potensi longsor berkurang. Sebelum ada pilar—pilar tersebut, di belakang deretan—deretan banyak ditemukan kuburan—kuburan yang diduga adalah kuburan para pekerja pembangunan jalan Cadas Pangeran. Pada saat itu selain daerah berbatu yang sulit juga banyak sekali nyamuk malaria. Selain factor kelelahan, kelaparan , penyakit Malaria juga menjadi penyebab utama kematian.

Ketika melewati ruas lama Cadas Pangeran akan terlintas betapa beratnya para pekerja paksa saat itu harus memetak gunung sehingga terbentuk jalan dengan lebar 2 roede rhijland (7,534 m²). Tentu saja memakai peralatan seadanya. Setelah mendapat protes dari Pangeran Kornel, Daendels setuju untuk mengirimkan  Pasukan Zeni menyelesaikan ruas ini.

Sampailah hamper di ujung ruas lama Cadas Pangeran. Terdapat prasasti yang mengatakan  “ DIBAWAH PIMPINAN RADEN DEMANG MANGKOEPRADJA DAN DIBAWAH PENELITIAN PANGERAN KOESOEMADINATA, DIBUAT PADA TAHUN 1811 DIBOBOK DARI TANGGAL 26 NOPEMBER SAMPAI TANGGAL 12 MARET 1812. “

Bila mengacu pada tanggal itu, jelas bukan masa Daendel lagi, karena dia sudah mengakhiri masa pemerintahan sejak 16 Mei 1811.

…………………….

Jalan Raya Pos Daendels sering dianalogikan sebagai genosida. Memang Daendels terkenal dengan gaya tangan besi, bahkan Sultan Banten pun diturunkan  dan istana Surosowan dihancurkan ketika mencoba melawan kebijakannya. Sangat berbeda dengan daerah—daerah yang mendukung pembangunan jalan itu.

Secara umum Jalan Raya Pos ini merupakan infrastruktur yang menopang ekonomi masa colonial hingga sekarang. Itu tidak bisa dipungkiri, pergerakan ekonomi meningkat dan kekuatan militer pun juga. Ironisnya , jalan ini hanya bisa dinikmati oleh para penguasa pada saat itu , termasuk penguasa pribumi yang diuntungkan ada nya Jalan Raya Pos ini.

Prasasti di Jalan Lama Cadas Pangeran

…………………….

Beribu jiwa bisu mengendap di ruas Jalan Raya tua itu. Diatasnya beribu jiwa tuli  melintasi nya. Lalu semakin hari semakin jauh terpisahkan. Dan kisah sejati jalan ini terus tersaput waktu. Mungkin tak’kan tersampaikan. Kemudian terlupa seiring hilangnya jati diri bangsa negeri ini …..

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s