Ciremai : Palutungan


Beberapa hari lalu saya sepulang dari Singapura, di kedai sate Garut saya membaca bahwa tujuh pendaki tersesat di Gunung Ciremai. Mereka mendaki melalui jalur Palutungan, suatu jalur terpanjang untuk mencapai puncak Ciremai. Hal ini mengingatkan pendakian saya dan rekan-rekan engineEAR di Gunung Ciremai yang juga melalui jalur tersebut dan tentu saja mendorong saya untuk menulis pengalaman yang baru kami lakukan di bulan April kemarin.

Ciremai merupakan gunung tertinggi di tanah Sunda ( baca : Jawa Barat ) dengan ketinggian 3087 mdpl dan terletak di Kabupaten Kuningan. Dari Terminal Pulo Gadung, Jakarta, 9 April 2009 pukul 02.00 kami menuju ke Terminal Cirebon. Waktu perjalanan kami sekitar lima jam. Setelah anggota terkumpul (Chimot berangkat dai Surabaya pukul 19.00) kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan ¾ menuju terminal kuningan. Sepanjang Perjalanan kami bisa melihat kokohnya Gunung Ciremai yang sedang bercinta dengan awan mendung. Sempat membuat gentar kami, apalagi beberapa hari sebelumnya Jakarta sempat banjir karena curah hujan yang begitu deras.

Kami memutuskan untuk mendaki lewat jalur Palutungan dan turun lewat jalur Linggarjati. Jalur Palutungan merupakan jalur terpanjang sedangkan jalur Linggarjati adalah jalur paling sulit. Sesampai di terminal Kuningan kami menyewa kendaraan menuju Pos Perizinan Palutungan. Sekitar 30 menit kami sampai di Pos Perizinan. Namun kami tidak bertemu petugas. Menurut informasi warga, petugas perizinan sedang menjadi panitia KPPS. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, dan itu sudah melebihi schedule kami, maka kami putuskan untuk mendaki tanpa izin.

Di awal perjalanan kami melalui hutan dan ladang warga. Namun setelah berjalan lebih dari satu jam kami baru sadar kalau tersesat. Untung kami bertemu warga, akhirnya kitapun menemukan jalur sebenarnya. Perjalanan kami tidak mengalami hambatan berarti , pos demi pos terlalui sesuai schedule kami. Di Pos I, Cigorowong , kami sempatkan untuk ISHOMA. Di sinilah kita bisa me-reload kembali persediaan air , setelah itu hingga Puncak tidak akan ditemui sumber air.

Pos II Kuta, Pos III Paguyanan Badak, Pos IV Arban merupakan sebidang tanah datar yang cukup untuk mendirikan 2-3 tenda. Di Pos V, Tanjakan Asoy kami beristirahat sejenak sekalian sholat. Tanjakan Asoy sendiri merupakan tanjakan setapak yang cukup curam. Kami berencana menginap di Gua Walet, tapi karena sudah mulai capek kami memutuskan mendirikan tenda untuk istirahat.  Saat istirahat sempat hujan deras mengguyur tenda kami.

Pukul 03.30 kami bangun, langsung packing dan melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Kami sempat patah arang karena hingga pukul 05.00 kita belum menemukan Pos VI Pesanggrahan dan Sang Hyang Ropoh. Namun ketika menemukan Goa Walet kami mulai bersemangat lagi. Goa Walet merupakan dengan mulut gua yang besar namun dalam tidak terlalu luas. Di sini ada sumur Gonggo, kita bisa mengisi air dari sini walaupun intensitas air sangat kecil.

Kami berpikir, puncak Ciremai tanpa vegetasi, karena itu kami pikir masih jauh. Kami harus mendaki hati-hati, karena jalur yang penuh bebatuan mudah longsong dan kerikil yang membuat licin jalur pendakian. Tidak jarang  kami harus merangkak ke atas. Untung masih ada vegetasi yang bisa dijadikan pegangan.

Akhirnya kami sampai juga di Puncak tertinggi tanah Sunda (3078 mdpl). Walaupun tidak mendapatkan sunrise kami masih bisa menikmati mengagumkannya kawah Ciremai. Sangat curam dan hebat. Di puncak ini terdapat sebidang lapang yang menurut informasi biasa buat upacara bendera 17 Agustus. Kawah Ciremai sendiri memanjang atau bisa dikatakan ada dua kawah dan untuk mengelilinginya butuh waktu sekitar 1,5 jam. Dari puncak Ciremai kita bisa melihat Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa tengah.

Semua berlalu membawa mimpi

Kenangan bersamamu smakin sulit diingat

Sungguh smakin tua raga ini

Di Ciremai kita pernah tempa persahabatan

Di Ciremai kita pernah merangkak bersama

Bawa keangkuhan yang harus hilang bersama masa muda kita

Begitu cepatkah waktu berlalu ?

Ataukah kita yang tidak tahu diri akan masa muda yang terlewat

Catt:

  1. Dari Jakarta nai bis jurusan Cirebon berhenti di Terminal Cirebon, atau langsung bis jurusan Kuningan dari Lebak Bulus (IDR 28.000)
  2. Dari Terminal Cirebon naik angkutan umum ke Terminal Kuningan (IDR 6.000)
  3. Carter mobil untuk menuju Pos Palutungan (@ IDR 10.000)
Advertisements

One thought on “Ciremai : Palutungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s