Ciremai : Linggarjati-Dehidrasi


Puncak Ciremai2

Menyambung cerita kami di Ciremai………….

Sejak awal kita sudah memutuskan untuk tidak turun gunung dengan rute sama saat mendaki. Dan jalur untuk turun gunung kami pilih jalur Linggarjati.

Setelah hampir satu jam kami menikmati puncak Ciremai kami mulai mencari jalur Linggarjati. Kami sempat kesulitan mencari jalur tersebut, setiap mencoba jalur turun tetap saja akhirnya saja menuju puncak lagi. Ketika hampir ¾ lingkar kawah kami “satroni”, akhirnya kami menemukan juga jalur tersebut.

Turunan jalur ini sangat curam. Di awal-awal jalur terdapat percabangan dua arah dan kami memilih jalur kanan. Selain curam juga berbatu, hingga memaksa kami untuk “nglesot” saat melaluinya. Untung ada tanaman disekitar jalur yang bisa dijadikan alat bantu turun.

Pos pertama yang kita temui adalah Pos Pengasinan. Suatu dataran landai yang luas cukup untuk 10 tenda. Pos selanjutnya adalah Sanggabuana I dan Sanggabuana II. Mulai pos ini kami mulai memasuki vegetasi hutan. Rute semakin sulit dilalui dan harus ekstra hati-hati.

Dari informasi yang kami peroleh sebelum mendaki, bahwa Pos setelah Pos Bapa Tere adalah Pos Kuburan Kuda. Kemudian  setelah Pos Kuburan Kuda adalah Cibunar. Kami memperkirakan pukul 19.00 sampai di Pos Linggarjati. Dan semua itu adalah salah. Inilah awal dari ”petaka” yang kami alami di jalur ini.

Setelah melewati Pos Bapa Tere, kami mendapati Pos Tanjakan Seruni dan Pos Pengalap. Kami mulai sedikit frustasi. Apalagi ketika kami bertanya pendaki lain, berapa waktu yang bisa ditempuh dari Pos Pengalap ke Pos Kuburan Kuda. Jawabannya adalah sekitar 1 jam. Padahal saat itu sudah pukul 15.00.

Perjalanan kami begitu lambat karena selain sudah lelah, salah satu teman kami, Edo sakit. Beberapa menit sekali kami harus beristirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, tapi kami belum menemukan Pos Kuburan Kuda. Kami pun berhenti untuk sholat dan B-OL. Di sinilah persediaan air kami habis. Kami tidak sadar bahwa tempat kami beristirahat adalah Pos Kuburan Kuda. Kami mengetahuinya setelah beberapa menit di tempat itu. Semangat kembali tumbuh. Dipikiran kami tetap setelah ini adalah Pos Cibunar.

Kami mulai kehausan. Kami pun menemukan ”pos lain” , Pos Condong Amis. Di sini kami meminta air 6 tegukan pada pendaki yang sedang bermalam di pos itu. Dari mereka kami dapat info bahwa pos setelah ini adalah Pos Leuweung Datar baru kemudian Pos Cibunar. Perjalanan kami lanjutkan  dengan tetap menjaga semangat.

Kami tidak menemukan Pos Leuweung Datar. Kelompok pun terpecah menjadi dua, karena beberapa sudah begitu lelah dan haus. Dari informasi pendaki yang kami temui saat itu, posisi Pos Cibunar sudah dekat. Kami di beri ancer-ancer ada bangunan gubuk, disitulah kita bisa minta air kran. Son dan Purwo berjalan terlebih dahulu untuk mencari air.

Akhirnya mereka berdua menemukan bangunan gubuk (yang ternyata warung). Sayang warung tersebut sudah tutup dan mereka berdua tidak menemukan kran air seperti yang dimaksud. Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kembali menemukan warung (tutup) lagi. Setelah mengitari warung tersebut , tetap saja tidak menemukan air, kecuali sedikit air di gelas plastik air mineral. Lumayan cukup buat satu tegukan untuk dua orang (ga tahu itu air apa). Setelah minum dengan perasaan mulai pasrah, mereka berdua duduk di kursi depan warung. Saat itu pukul 21.30 WIB

Di sini mereka berdua seperti mendengar suara air tapi tidak tahu posisi dimana. Yang satu berpikiran suara sungai , yang lain berpikiran suara angin. Beberapa menit kemudian Chimot datang menanyakan keberhasilan ”misi” kami. Tanpa sengaja Chimot mengarahkan senternya ke atas……di situ tertulis ” CIBUNAR ”. Langsung saja kami yakin itu suara air. Kami bertiga langsung bergegas mencari sumber suara itu.

Segar………………….tak tanggung-tanggung masing-masing hampir 3 liter kami minum air Cibunar. Kami campur dengan berbagai larutan. Kami berkumpul kembali dan beristirahat di Cibunar sejenak. Satu pos lagi yang harus kami capai. Pos Cibunar sendiri merupakan dataran luas yang digunakan untuk perkemahan. Di sini banyak kedai/warung berdiri.

Setelah rasa capek mulai berkurang kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Linggarjati. Perjalanan kami tempuh sekitar 20 menit. Pukul 22.45 kami sampai di Pos Linggarjati. Di sini kami memesan makan malam dan mobil carteran.

Selesai membersihkan badan, Pukul 24.00, dengan mobil carteran kami menuju Cirebon. Son dan Ervan langsung ke Bekasi sedangkan yang lain memilih menginap di Cirebon untuk istirahat.

Puncak Ciremai

Advertisements

One thought on “Ciremai : Linggarjati-Dehidrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s