Istana Ratu Boko : Bukti Toleransi Beragama Masa Lampau


Saat liburan adalah saatnya memanjakan diri dengan hal-hal yang menjadi minat kita. Apalagi liburan kali (18 Juli 2009) ini cukup panjang, 3 hari, tapi cukuplah membuat hati ini berbinar…….. Kali ini Saya, Cimot dan Liox ( Great Sister ) jalan – jalan ke salah satu peninggalan kemasyuran leluhur bangsa ini, Kerajaan Medang/Mataram Kuno (Wangsa Syailendra) yaitu Istana Ratu Boko.

Kenapa disebut Istana bukan candi atau komplek candi ? Karena reruntuhan purbakala seluas 25ha yang ditemukan 1790 oleh Van Boeckholtz di atas bukit Ratu Boko ini memiliki multi fungsi sebagai benteng dan keraton ( istana ) jika dilihat dari pola peletakan sisa bangunannya. Namun disini juga bisa ditemui bangunan untuk beribadat ( candi ), kolam, hunian dan gua untuk meditasi.

Berdasarkan Prasasti yang ditemukan di sekitar komplek dan berangka tahun 792 M, komplek ini dibangun oleh Rakai Panangkaran dengan nama awal Abhayagiri Vihara, sebuah tempat peribadatan pendeta Buddha yang berarti wihara di bukit penuh kedamaian. Namun pada 856 M, oleh Rakai Walaing Phu Kumbayoni yang beragama Hindu dirubah fungsinya menjadi istana. Jadi tidak mengherankan jika komplek ini memiliki unsure agama Buddha dan Hindu. Rakai Panangkaran sendiri beragama Buddha dan pada masanyalah Candi Borobudur, Candi Kalasan dan Candi Sewu dibangun.

Untuk mencapai komplek Istana Ratu Boko kami harus menaiki tangga batu dan berjalan sekitar 150 m dari gerbang wisata. Bangunan pertama yang kami jumpai adalah Gapura 3 pintu yang membujur dari utara-selatan. Sayang pada saat itu kami tidak bisa menikmati bangunan ini, karena digunakan untuk gladi resik pagelaran sendra tari pertama di Istana Ratu Boko. Padahal saya ingin mencari tulisan ‘Panabwara‘, Sebuah nama dari salah satu keturunan Rakai Panangkaran yang berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, telah mengambil alih istana ini sebagai upaya melegitimasi kekuasaan menuliskan namanya di gapura pertama.

Bangunan kedua yang kami temui adalah ikon dari Istana Ratu Boko, yaitu Gapura 5 Pintu yang tentu saja lebih besar dan di posisi lebih tinggi dari gapura sebelumnya. Dari sini kita bisa melihat Candi Pembakaran dengan 2 teras dan Candi Batu Putih. Di sebelah timur laut terdapat jalur tanjakan menuju Pos Panorama, sangat cocok untuk melihat panorama di sisi utara, Gunung Merapi dan Candi Prambanan.

Menuju arah tenggara kami menemukan Pendopo, suatu bangunan datar dengan di kelilingi pagar batu. Sebelum kita memasuki Pendopo kami menemui penggalian yang berupa tangga. Dari situ dimungkinkan Istana Ratu Boko tertimbun oleh bukit. Kami tidak membayangkan bagaimana bentuk asli bangunan ini. Disebelah timur nya dengan posisi lebih rendah terdapat sisa-sisa bangunan Kaputren atau Istana Pemandian. Selain itu kita bisa menemui komplek Gua di sebelah utara Pendopo. Secara keseluruhan Istana Ratu Boko  sangatlah mengagumkan apalagi saat senja tiba.

Namun karena Liox ada acara jadi kami harus buru-buru pulang. Sebelum pulang kami menyempatkan diri ke Plaza Andrawina untuk memotret Gunung Merapi kala senja.

Catt :

  1. Dari Yogyakarta menuju ke Jl. Raya Yogyakarta-Solo, pertigaan Prambanan belok kanan
  2. Bila menggunakan umum, dari Terminal Giwangan naik jurusan Solo turun di Prambanan atau naik Trans Jogja dengan tujuan akhir Shelter Prambanan. Dilanjutkan dengan naik ojek.
  3. Anda bisa membeli tiket paket Prambanan-Ratu Boko @ IDR 25.000 di loket Candi Prambanan, maka anda akan mendapat angkutan gratis PP ke Ratu Boko
  4. Dianjurkan untuk menjelang senja untuk mengunjungi Istana Ratu Boko. Karena sunset di Istana Ratu Boko sangatlah mengagumkan
Advertisements

One thought on “Istana Ratu Boko : Bukti Toleransi Beragama Masa Lampau

  1. kenapa penemu candi-candi di indonesia, atau peninggalan sejarah lain selalu saja orang barat (eropa).
    padahal kan penduduk Indonesia udah tinggal dan ada di sekitar candi sejak lama sebelum bangsa barat datang, nggak mungkin kalau mereka nggak tau di sekitar wilayahnya ada candi.
    tapi kenapa nama penemunya orang barat ya???
    -aneh-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s