Kisah diatas kereta China


Keluar dari subway, aku sampai dibuat takjub. Ini adalah sebuah stasiun. Luasnya luar biasa, dengan sistem yang tersaji layaknya bandara. Dan bangunan gedungnya pun super mewah bertingkat. Papan display elektronik tersebar dimana-mana. Maklum ini adalah stasiun negara maju pertama yang kukunjungi, setelah keluar dari kungkungan negara berkembang Asia Tenggara. Saat ini kami (aku, Son, Ervan dan Liyox) berada di Beijing South Station, untuk melanjutkan perjalanan dari Beijing ke Shanghai.

Pilihan kereta yang kami pilih adalah G class. Kereta super cepat (dan super mahal tentu saja :p ). Pada level ini kami harus sedikit malu menyandang gelar backpacker, yang kesannya harus membumi (baca: kere style), apalagi kalau sampai didengar oleh Mantos yang  tidak ikut pada perjalanan kali ini. Bisa jadi bahan olok-olokannya 😀 Tapi memang kondisilah yang membuat kami harus mengambil pilihan ini. Waktu memang tak terkalahkan, dan kami benar-benar harus mengalah.

Wow, boardingnya pun seperti dipesawat. Kami pun naik kedalam kereta berhidung kerucut ini. Tempat duduk sangat nyaman. Benar-benar super executive class kalo di Indonesia. Tepat sesuai jam keberangkatan kereta meluncur dengan percepatan yang sangat mulus. Kecepatan pada display menunjukkan angka 300 km/h. Luar biasa. Kami tidak perlu naik formula 1 untuk bisa secepat Michael Schumacher

Cerita berganti….

Kami berlari terbirit-birit menggendong backpack (dan kantong kresek yang berisi oleh-oleh) menyusuri jalanan kota Shanghai untuk secepatnya menuju subway yang akan membawa ke stasiun. Dalam waktu setengah jam kami harus sudah masuk kereta yang membawa kami ke Shenzhen. Jika tidak (aku sampai keringat dingin membayangkan kemungkinan ini), hancur semua, timing kacau balau, keuangan pun jelas semakin kacau.

Sebelumnya, kami berencana naik kereta dari Shanghai ke Hongkong yang akan berangkat sore hari. Tapi pihak hostel mengatakan bahwa biasanya tidak akan dapat tiket jika tidak beli jauh hari pada kondisi bulan-bulan tersebut. Jadilah pagi hari (dan terpaksa harus menunggu money changer buka dulu jam 9, kehabisan yuan) Son dan Ervan berburu tiket ke stasiun. Aku dan Liyox menunggu di hostel jika hal ‘buruk’ terjadi. Dan benarlah, ada sms masuk dari Ervan: “tiket Hongkong habis, kita berangkat ke Shenzhen siang ini, 1 duduk 3 berdiri.” Sms yang singkat dan padat yang menusuk. Rupanya tinggal itu tiket yang tersisa. Bukan hanya masalah berdiri, tapi yang lebih membuatku tegang adalah waktu keberangkatan yang tinggal 1 jam lagi. Madness. Aku dan Liyox langsung mem-packing semua tas, sambil menunggu kedatangan Son dan Ervan dari stasiun.

This slideshow requires JavaScript.

Kembali lagi. Walau kami harus berlari seperti pedagang kaki lima yang dikejar-kejar satpol PP, akhirnya kami bisa sampai tepat waktu (dalam ukuran menit). Tepat kami naik kereta, tepat kereta berangkat. Alhamdulillah sempat. Kami berpisah, Liyox yang memegang tiket duduk masuk ke gerbong depan, sedangkan kami masuk ke gerbong 9, karena tiket kami menunjukkan angka gerbong 9 walaupun untuk angka kursi kosong. Rak-rak sudah penuh berisi tas, begitu pula dengan tempat duduknya (tentu saja). Kami tidak tahu bagaimana ‘sistem kerja’ tiket berdiri disini. Setelah setengah jam berdiri terombang-ambing tidak jelas, akhirnya kami menemukan tempat duduk yang nyaman, yaitu duduk diatas backpack kami yang kami tidurkan dipintu dekat sambungan gerbong. Tempat para perokok berkumpul melakukan aktivitasnya (i hate that!).

Belum sampai setengah jam kami menikmati duduk kami, kami diusir 2 orang petugas untuk pergi ke gerbong 5 (hasil dari penangkapan kami, kami tidak mengerti bahasa mereka, hanya melihat angka 5 yang mereka tulisan diatas kertas). Sudahlah kami patuh saja. Waaah…ternyata gerbong ini masih lowong, masih banyak kursi kosong. Setelah menaruh tas, kamipun duduk manis. Lega rasanya. Walaupun distasiun berikutnya kami harus diusir si pemilik kursi yang barusan naik. Tapi kami bisa pindah ke kursi kosong yang baru ditinggalkan. Begitulah seterusnya. Hidup kami ter-ping-pong disetiap stasiun pemberhentian. Tapi tetap kami syukuri, daripada harus berdiri dari Shanghai ke Shenzhen yang jauhnya luar biasa, sejauh Surabaya Jakarta pulang pergi.

Jika membayangkan hari sebelumnya kami duduk super nyaman diatas kereta super cepat, dan sekarang harus terlunta-lunta, memang benar apa kata Ronan Keating, life is a rollercoater. So daripada mengeluh, nikmati saja sensasinya 🙂

Epilog: rencanaku untuk bisa mencoba kendaraan darat melayang gagal, karena kami harus buru-buru meninggalkan Shanghai. Apakah itu? Tentu saja Maglev

Advertisements

2 thoughts on “Kisah diatas kereta China

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s