Mengintip Landscape Taman Nasional Tengger-Bromo di Penanjakan


Taman Nasional Bromo - Tengger

Taman Nasional Bromo - Tengger

Pukul 18:00 mobil carteran kami sudah tiba di depan rumah M@he. Driver bercerita sedikit kesulitan mencari alamatnya, karena awalnya diputuskan meeting point-nya di parkiran ELITS ( dan dia sudah nyampai kampus ), namun karena untuk lebih memudahkan kami, diganti di rumah M@he. Lagipula banyak yang berkepentingan untuk mandi sore setelah seharian jalan-jalan.

Sambil bergantian mandi dan menunggu Tory, beberapa dari kami ngobrol dengan Ayah M@he. Ternyata beliaunya asyik juga (grapyak istilah Jawanya) , ga kaku seperti beberapa ortu teman-teman kami. Ketika semua sudah selesai mandi, yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami pun melakukan persiapan terakhir dan memasukkan perlengkapan liburan ke dalam begasi dan setelah itu berpamitan ke Ayah M@he untuk berangkat.

Masih ada tiga peserta lagi yang belum join, Hadid, Agus dan Musfar. Mereka minta dijemput di daerah Univk Petra. Sebelum menjemput mereka kami terlebih dahulu makan malam di dekat Masjid Al Akbar Surabaya sekalian mempersiapkan bekal minuman untuk perjalanan. Pukul 21:00, makan malam selesai, kami jemput tiga rekan kami. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan menuju arah Ngadisari, Probolinggo, sambil clingak – clinguk nyari warung buat Agus , (ternyata Agus belum makan….).

Perjalanan kami setelah tol adalah melintasi tanggul “legendaries” Porong. Tingginya lebih dari 7 meter dan tidak lagi hanya gundukan tanah. Masih ingat aku, dulu hanya setinggi 1 meter ketika tahun 2006. Sepanjang perjalanan, aku berpikir ketika nyampai langsung di Penanjakan, ternyata keliru. Saya cuman ingat “ sari” , Tosari atau Ngadisari tidak aku perhatikan. Oiya sempat pula Driver “keluar jalur”, tapi untung diingatkan Tory.

Kami sampai di Ngadisari sekitar 02:00 ( di sini aku masih berpikir di Penanjakan). Di parkiran bawah kami ditawari kendaraan hard top, namun karena tidak cocok dengan harga penawaran, kami memutuskan untuk naik terlebih dulu ke parkiran atas dengan asumsi akan mendapatkan harga yang lebih murah. Setelah 15 menit perjalanan kami sampai di ujung akhir diperbolehkannya kendaraan pribadi. Tory pun segera mencari carteran mobil, sedang aku dan Chimot sholat Isya (? ) Wow !! musholanya ga ada air wudlunya, terpaksa kami wudlu di toilet umum (bayar dech ) . Dan tidak seperti biasa, sholat pun dengan gemetaran :p.

Ternyata harga carteran di sini sudah lebih tinggi. Jumlah personel kami adalah 9, kami memilih kendaraan terbuka. Karena dalam posisi “kalah” kamipun menerima hasil akhir perundingan, selisih lebih 50 rb dari penawaran di parkiran bawah. Lagipula kami sangat tergesa-gesa untuk tidak melewatkan sunrise ( Saat inilah aku baru sadar kalo, tempat kami berhenti bukanlah Penanjakan). Hampir setengah jam kendaraan carteran kami tidak datang-datang. Kendaraan semakin banyak berdatangan dan macet karena parkiran lumayan penuh.

Akhirnya datang juga, kami pun langsung naik dan berangkat. Untuk menuju Penanjakan kami harus melewati area Bromo terlebih dahulu. Di sini kita kan menemui jalan pintas yang menurut driver adalah jalan menuju Semeru. Sebagai orang yang pertama kali ke Bromo ( padahal 26 tahun hidup di Jatim ) aku sangat kagum mengamati sosok hitam besar yang kami lewati saat melintas padang Bromo. Inikah gunung Bromo itu ? Jelas aku tidak tahu, saat itu masih sekitar pukul 04:00 hanya rembulan penuh yang menjadi penerangnya. Setelah 10 menit, kami pun menaiki tanjakan. Yup kami harus melewati area Bromo dan tanjakan sejauh kira – kira 20 km untuk menuju Penanjakan. Benar – benar ga menyangka sejauh itu, kukira bisa ditempuh dengan waktu singkat by on foot.

Penanjakan adalah view point legendaries untuk menikmati panorama Bromo yang mengagumkan. Ini bukan berdasar review sahabat saya, Chimot, saja, namun juga dari para traveler-traveller lain. Kira – kira hampir 45 menit melewati tanjakan berliku, kami pun sampai di Penanjakan. Penanjakan sendiri berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Pasuruan. Di sini kami harus turun dan jalan kaki menajak sekitar 200 meter.

Tiba di view point, ternyata sudah cukup penuh dengan pengunjung. Sedikit terkejut dan kecewa ( banyak saingan ). Segera saja Aku, M@he dan Ervan mencari spot untuk memotret. Begitu mendapat spot langsung kami gelar tripod kami. Saat itu aku belum berjaket, maklum aku lagi kangen suasana dinginnya pegunungan, selama jemari dan pundak belum ngilu aku biasa ga pake jaket.

Agus dan Chimot mengingatkanku untuk sholat dulu. Lagi – lagi musholanya ga ada airnya. Tolah – toleh rupanya semua pada sholat di paseban kecil. Ramai juga. Karena darurat, wudlunya pake gelas air mineral. Baru mau ambil air wudlu seseorang ( penduduk asli ) berkata “ Mas Air nya bayar ya,karena ambil dari bawah “. Baru di tempat ini aku beribadah bayar, tapi aku maklumi. Wow !! setelah kena air jemariku ngilu!! Langsung saja kupakai jaket. It was so damn cold morning.

Sholat selesai, saatnya hunting sun rise. Ku tunggu dan ku tunggu engkau wahai sunrise. Ku bayangkan sunrise muncul di balik Semeru, gunung yang pengen banget kudaki. Pasti mirip gambar anak – anak TK dimana matahari selalu muncul diantara dua gunung runcing lengkap dengan mata, hidung dan bibir yang tersenyum. Tapi beberapa saat kemudian………. Sial !! Aku baru sadar kalo posisi Semeru adalah sebelah selatan Bromo, berarti saat ini aku menghadap selatan. Posisiku tidak memungkinkan mendapatkan sunrise karena pengunjung yang membludak, semua mengarah ke arah sunrise. Apalagi jemariku sudah uncontrolled untuk men-setting kamera.

Sunrise  - Penanjakan

Sunrise - Penanjakan

Tapi “kekecewaanku” terbayar ketika aku mendapatkan spot yang presisi. Mataku begitu liar mencari celah bagaimana memotret tanpa terhalang pengunjung dan lapang untuk foto keluarga. Posisi bagus itu berada di sisi barat agak turun ke bawah. Sebelumnya aku hampir mengalami malapetaka, ketika aku menaiki pagar pembatas, aku merasa goyang, ternyata pagar bata itu patah dan tripodku nyangkut di besi yang melintang. Aku panggil – panggil Agus, karena dia yg paling dekat, tapi dianya ga “ngeh” jadi terpaksa aku mengandalkan diri sendiri. Aku yakin jika aku ga berhasil pasti aku jatuh ke jurang. Alhamdulillah….

Fajar pun berlalu berganti pagi. Semakin jelas penampakan panorama Bromo :

engineEAR Team-Mate

engineEAR Team-Mate

Tiada jarang kita angkuh terhadap keterbatasan
Namun Sang Waktu terlalu perkasa untuk dilawan
Hingga jantung memahami batas berdetak
Hingga darah mengerti kapan berhenti
Hingga hati semakin bersyukur pada-Nya

Setiap keindahan yg terhampar di pangkuan Bunda Pertiwi
Semakin menyentak kita untuk bersyukur dan memuji-Nya
Dan semakin ingin untuk mecari lagi tanda-tanda kebesaran-Nya
Hingga tiada jarang kita melewatkan salah satu tanda itu

Indahnya waktu berkumpul dengan sahabat……

Puas menikmati Bromo dari Penajakan, kami pun membeli jagung bakar. Agus paling lahap karena belum makan sejak kemarin malam. Dan kemudian saat nya menikmati Bromo lebih dekat

foto by M@he

disambung di : Melihat Bromo Lebih Dekat

Advertisements

5 thoughts on “Mengintip Landscape Taman Nasional Tengger-Bromo di Penanjakan

    • Maklum lek ga kroso diceluk, lha wong ga ngeh koq. Aku ngawe2 awakmu awakmu malah foto bareng arek. Coba liat foto keluarga dimana aku tidak ada, pas di penanjakan

  1. Perajalanan saya ke Pegunungan Tengger cukup menyenangkan, apalagi melewati rute via Malang yang melewati perkebunan apel dan panorama alam.
    Terimakasih atas infonya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s