Sibayak 2020


Semenjak ditugaskan di Medan aku merencanakan akan mendaki gunung Marapi sebelum Kerinci tahun 2021. Gunung Leuser pun sempat jadi wishlist namun karena memerlukan waktu pendakian yang hampir 10 hari, aku tidak lagi memprioritaskan. Tapi Corona mengubah semua itu.

Hingga bulan Oktober serasa “badai” ini belum juga usai. Kemana – mana masih saja ribet , sekaligus bikin cemas. Terbesitlah keinginan untuk mendaki di sekitar Medan. Ada Pusuk buhit, Puncak keramat Suku Batak, Ada Gunung Sibuatan, puncak tertinggi Sumatera Utara dan terakhir Gunung Sibayak, gunung terpopuler di Sumatera Utara. Namun ternyata saat itu Gunung Sibayak ditutup karena dilaporkan ada harimau sumatera “turun gunung” sejak September 2020. Hal ini juga terjadi di Gunung Leuser. Pilihan pun beralih ke Pusuk Buhit di Pulau Samosir.

Alhamdulillah, Gatot , temen kami memberikan info bahwasanya Sibayak sudah dibuka lagi. Sekejab juga rencana berubah. Hari Kamis kami memutuskan untuk mendaki Sibayak. Tidak hanya memberikan info, Gatot juga meminjamkan ta carrier 55L, nasting, Sleeping Bag dan Tenda plus matras. Karena tenda milik Gatot single layer, kami pun menyewa tenda. Hingga Sabtu malam Tim ini berjumlah 4 : Brian, Boma, Hary dan Aku. Rata – rata mereka berumur 28 – 30 tahun. Sedangkan aku …. 37 tahun.

Kami berangkat hari Minggu 29 Nopember 2020. Kami sengaja memilih hari minggu untuk menghindari keramaian di Sibayak. Beberapa kali browsing , Sibayak selalu full di weekend. Padahal aku pribadi , ke Gunung itu asyiknya justru sepi, serasa hening dan lebih dekat dengan alam. Pengalaman mendaki di Semeru yang kaya “pasar kaget” membuatku berpikir ulang untuk mendaki di hari libur.  

Perjalanan dimulai jam 11.00 WIB dari Medan. Belum keluar kota Medan, ban mobil sudah bocor. Saat mendongkrak, alat dongkraknya rusak….. Alhamdulillah semua selesai dengan lancer jadi bisa melanjutkan perjalanan ke Berastagi. Perjalanan kami sangat lancer dan cuaca juga cerah.

Jam 14.30 WIB kami sudah masuk kota Berastagi. Kami  mampir ke Warung Wajik untuk makan siang (sore) sekaligus melengkapi bekal obat-obat ringan. Jam 15.45 WIB kami beranjak menuju Gunung Sibayak. Hanya sekitar 20 menit kami sudah sampai di Pos Pendaftaran. Setelah menyelesaikan administrasi pedaftaran , 16.42 WIB kami memulai pendakian.

Hampir Sampai

Hampir Sampai

Sesuai info, trek Sibayak cocok untuk pemula dan “manula” seperti saya ( hahahaha…. ) Hanya sekitar 1 jam sudah sampai di Kaldera Sibayak. Meski begitu bagiku  yang terakhir mendaki 2017 di Gunung Guntur – Garut, trek ini lumayan menantang dengan membawa tas berisi Tenda 5 person. Ya mirip – mirip mendaki Gunung Papandayan dari Parkiran ke taman Edelweis.

Panorama Kaldera ( 360 derajat )

Bersama Tetangga Dadakan

Bersama Tetangga Dadakan

Selesai mendirikan tenda, kami pun menikmati malam dengan Indomie dan minuman hangat. Cuaca cerah. Semoga besok kami bisa mendapatkan sunrise. Jujur, aku tidak berekspekasi mendapatkan sunrise atau bisa muncak”, secara sudah 2 minggu ini setiap hari, Medan tidak pernah tidak hujan. So.. bagiku bisa camping di alam terbuka sudah cukup buatku.

Cari Kehangatan

04.00 WIB aku sudah terbangun dan duduk di dalam tenda sambil menunggu waktu Subuh. Jam 04.50 WIB aku beranjak keluar dan kulihat langit cerah dan bulan purnama tidak terhalang awan. Aku coba buat api unggun, (berhasil  sekitar 10 menit saja  hahahha… ) dan membuatkan minuman energen cereal  untuk anak-anak.

Kami memulai attack summit cukup telat , 05.45 WIB. Menuju puncak cukup menantang karena harus climbing. Saat itu kami mendaki dari sisi timur. Untung kami tidak membawa beban. Dan sampailah kami di Puncak jam 06.15 WIB.  Yang sampai puncak pertama adalah Hary, kemudian aku lalu Boma. Kemana Brian ?   Damn … ternyata dia sengaja melambat karena mau buang hajat….

 

Sembilu durjana lancang menghunus

Ibaratkan malam mendendam pada sang waktu

Bilakah resah ini diri-Mu ?

Adalah aku ingin bermunajat rindu

Yakinku, harapku bercumbu menyatu satu

Kala itu di kaldera Sibaya aku sujud merayu-Mu

Alhamdulillah

Sangat melampui ekspektasi. Pemandangan dari puncak bikin speechless, khususnya bagiku yang tidak terlalu berharap bisa muncak karena saat itu musim penghujan. Di ufuk timur warna emas menggores fajar. Di sisi barat Gunung Sinabung sendiri mengepalkan asapnya seperti lengan takdir.

Boma, The Leader – Blue Ranger

Hary, The Navigator – Yellow Ranger

Brian, The Tourist – Black Ranger

Red Ranger

Di puncak kami bertemu tim lain. Ternyata mereka dari sisi barat. Alhamdulillah ada jalan lain sehingga ga harus melewati “jejak” si Brian. Sebenarnya tidak itu saja, curamnya jalur pagi tadi membuat aku cukup gentar untuk menuruninya karena aku sedikit ada masalah dengan kekuatan lututku.

Kaldera

Cukup lama kami menikmati Puncak, jam 08.30 WIB kami mulai beranjak turun. 09.40 WIB kami selesai packing dan menuju ke Pos pendaftaran. Dalam perjalanan turun anak -anak mulai merasakan kondisi kaki yang kelelahan. Lutut mereka bergetar. Hmm……… padahal mereka jauh lebih muda dariku….

Ayo udah Siang

Pulang

Alhamdulillah sampailah kami di Pos Pendaftaran. Kami langsung berbenah menuju ke Kota Berastagi untuk sarapan dan Kembali ke Medan.

13.00 WIB sampailah kami di Medan.

Menatap Sinabung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s