Tuk Tuk dan Jeepney, Kendaraan Khas Asia Tenggara


Di beberapa negara yang aku kunjungi memiliki transportasi khas. Itu seakan menjadi wajib bagiku untuk merasakannya. Sekedar merasakannya sih tidak lebih.

Di Thailand, Laos dan Kamboja yang notabene memiliki kedekatan secara historikal memiliki alat transportasi  yang bernama Tuk Tuk. Meski namanya sama tapi bentuknya berbeda. Secara konsep hampir mirip bajaj di Jakarta tapi ga berisik mesinnya.

Di Bangkok, desain Tuk Tuk nya paling mirip Bajaj, meski lebih luas sedikit. Tapi lebih berwarna warni, lengkap dengan bendera Thailand dan panji Rajanya. Posisi duduk penumpang lebih tinggi dari posisi driver. Tempat duduk penumpang hanya satu. Cukup untuk berdua. Tidak ada pintu di kanan kiri. Kurang safety, tapi asyik.

Tuk Tuk Kamboja yang aku temui di Siem Rap beda lagi. Ini tak lebih dari motor bebek yang di attach kereta roda dua yang disambungkan di jok belakang motor. Ga lagi beroda tiga tapi beroda empat. Posisi tempat duduk adalah berhadapan depan belakang.  Secara reability mungkin ga sehandal Tuk Tuk Bangkok yang benar – benar terintegrasi satu. Sama dengan Tuk Tuk Thailand, Tuk Tuk Kamboja juga tanpa pintu pengaman di kanan kiri.

Mungkin Tuk Tuk laos adalah yang paling tangguh. Ukurannya paling besar hampir sepanjang angkot . Desainnya adalah setengah motor dengan tangki depan ( biasa disebut motor lanang kalo dijawa )yang disambung dengan gerobak. Posisi duduk berhadapan kanan kiri. Jadi bisa diisi lebih banyak penumpang dan barang daripada kedua “ saudaranya”.   Kamu bisa duduk disamping driver lho. Dari ketiganya yang sama adalah untuk menggunakan jasanya kita harus bargaining terlebih dahulu.

Di Philipina lain lagi. Negara ini memiliki Jeepney. Angkutan kota bermesin di depan dengan panjang melebihi  Elf atau L300. Kendaraan ini tidaklah seperti Tuk Tuk, tapi memiliki rute khusus selayaknya angkutan kota. Posisi tempat duduk adalah di kanan kiri dengan pintu masuk dari belakang. Saking panjangnya, kita harus berjalan membungkukkan badan agak lama saat kita dapat posisi paling depan. Sayang aku tidak sempat mencoba bagaimana jika aku harus turun di bukan tujuan terakhir Jeepney. “Kiri bang kiri bang”  ? Yang jelas disetiap sampai tujuan yang tertera di samping kanan body luar Jeepney, sang empunya selalu berteriak menyebut tujuan.

Oiya saat menaiki Jeepney, pembayaran ongkos tidaklah saat kita sampai tujuan seperti saat kita naik angkot, tapi dengan estafet. Orang yang paling jauh akan menyerahkan uang ke sampingnya kemudian yang paling dekat dengan driver akan mengumpulkan secara kolektif dan menghitungnya baru kemudian diserahkan ke driver. Bila ada kembalian maka driver akan memberikannya ke penumpang belakang terdekatnya untuk diserahkan ke yang berhak.

Sebenarnya Philipina juga memiliki kendaran beroda tiga. Namanya Tricycle. Aku belum sempat mencobanya. bentuknya berbeda dengan Tuk Tuk atau bajaj. Kontrusinya mirip becak motor  Padang, hanya saja posisi penumpang di sisi kanan driver.

Catt :

Jeepney sendiri adalah peninggalan pasukan Amerika saat perang dunia. kendaraan bekas perang tersebut dijual atau diberikan ke rakyat Philipina yang kemudian menjadi solusi murah untuk transportasi di Philipina.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s