Tambora (2) : Meretas Jalan (Rimba) Raya


Ku intip sang rimba di balik jala tenda. Hujan ternyata masih mendera saat waktu Subuh sudah melenggang menyambut pagi. Benakku pun masih berkecamuk lanjut apa tidak. Ku lihat Chimot masing “ngowoh” pulas tak terkira. Sejenak ku perhatikan dia. Tidak ada liur yang tercecer. Alhamdulillah. Ku luruskan kakiku, kupukul – pukul pahaku pelan sekedar menumbuhkan lagi reruntuhan semangat yang tercecer bersama embun pagi.

Chimot bangkit dari tidurnya. Kami terdiam dalam sejuta bahasa. Hujan telah berhenti. “ Gimana , Mot ? lanjut ga ? “ Lanjutlah … “ jawab seketika Chimot. Rupanya jawaban singkat itu mampu kembali membangkitkan kembali antusiasme dalam diri. Aku teguk air mineral dan kukupas Coklat. “ 75 % aku pensiun naik gunung Mot “ kataku pada Chimot sambil berlalu menuju sumber air.

Pacet

Pacet

Aaaargghh…. Ku lihat beberapa pacet menempel di kakiku. Jijik dan geli menjadi satu. Ini pertama kali berinteraksi dengan makhluk karnivora dari sub kelas Hirudenia ini. Chimot menetesi si pacet dengan minyak kayu putih, seketika si pacet menggeliat dan terjatuh ke bumi. Dan saat itulah kami tersadar, rupanya begitu banyak pacet disekitar kami, termasuk di kedua kaki kami, juga di dalam sepatu. Rupanya jalan menuju sumber air juga full dengan pacet. Serasa di bekam. Chimot lebih “tabah” menghadapi pacet dari pada aku. Kalau aku sudah pengen mencabik – cabik, meski ternyata si hermaphrodite ini uletnya minta ampun.

08.00, kami sudah siap berangkat. Target kami hari ini adalah POS 5. Kami mulai mengatur ritme perjalanan, 10 menit berjalan kemudian berhenti 2 menit dan 30 menit berjalan kemudian istirahat 5 menit. Kami sering melakukan cara ini setiap jalan yang ditempuh menanjak. Kami selalu mencoba berkompromi dengan tubuh kami, meski terkadang kami lebih memaksa melampui batas. Tidak jarang saat lelah fokus mulai melemah dan akhir jatuh terjerambab.

Tersandung

Tersandung

Perjalanan menuju POS 2 kami tempuh selama 2,5 jam. Di sini kami kembali mengisi perbekalan air. Inilah kemudahan saat mendaki Tambora, hampir setiap POS ada mata airnya jadinya tidak perlu bawa persediaan air yang banyak seperti saat mendaki Ciremai yang sumber airnya hanya ada di POS 1. Kami teguk air sebanyak – banyaknya. Begitu segar sampai “kelempoken”. Sesuai target yang kami sepakati kami baru makan di POS 3. Istirahat cukup kami pun berangkat.

Saat itu ada 2 petunjuk arah ke puncak. Kami ambil yang ke kanan, karena menurut kami logis, sedangkan ke kiri ke arah sumber air tadi. Namun baru sekian meter buntu. Kami turun, kami coba dari sisi lain mungkin ada jalan setapak. Buntu juga. Kami coba paksakan dengan menuruni bukit sampai menerobos ilalang penuh duri, mungkin saja tertutup, tapi tetap saja kami tidak menemukan jalan setapak. Memang beberapa kali kami harus lebih teliti dalam perjalanan POS 1 – POS 3. Banyak jalur tertutup karena tertutup pohon tumbang atau semak belukar yang meninggi. Tidak jarang kami harus melewati batang pohon besar yang licin karena ditumbuhin lumut dan basah.

Setengah jam lebih kami belum juga menemukan. Akhirnya kami memutuskan kembali ke POS 2. Lapar juga jadinya. Aku merengek ke Chimot untuk memasak air hangat. Sempat Chimot menggerutu, maklum perlengkapan masak ada di tas dia. Itu pun berada di posisi tengah, jadi harus bongkar. Entah ada apa, Chimot kali ini begitu sabar dan “cocot”nya lebih dewasa dari sebelumnya. Mungkin karena ada si Gusdur, anak sulungnya.

Kami menikmati Energen Sereal segelas berdua. Manis nan kental. Kami memang sudah terbiasa makan sepiring berdua, minus segelas berdua. Karena efisiensi selalu kami utamakan. Selintas jadi inget temen kami yang bernama Edo, yang memilih tidak makan atau minum jika harus berbagi tempat. Orang yang higenis di saat yang tidak tepat. Koq jadi menggunjing orang . Sambil menikmati energen kami melakukan observasi, kemana jalur sebenarnya.

Selepas packing ulang, kami mulai mencoba – coba jalur. Masih saja tidak ketemu. Sekian menit kemudian Chimot melihat jalan setapak. Ternyata jalur sebenarnya adalah menyeberangi sungai kecil, dimana kami mengisi air tadi. Dengan kata lain sesuai dengan petunjuk arah yang kiri. Alhamdulillah, lanjutkan.

Jalur menuju POS 3 masih “dilengkapi “ oleh pasukan pacet. Mereka merayap pelan , tahu – tahu sudah di betis atau hampir lutut. Untung kami memakai pelindung kaki,jadi lumayan menghambat mereka mengakses darah kami. 2 jam sudah dan kami sampai di POS 3. Tapi sayang ……… Ternyata kami tidak sendirian si hutan ini. POS 3 telah dijadikan “mabes” para pemburu rusa. Padahal kami berencana mau masak, jelas tidak ada tempat. Kalau memasak di tempat terbuka ga banget, untung tadi sudah terganjal energen.

Pos 3, markas Para Pemburu Rusa

Pos 3, markas Para Pemburu Rusa

Para pemburu ini sudah 1 minggu di POS 3. Mereka baru dapat 1 ekor, sedangkan target 10 ekor. Saat itu di “mabes” hanya ada seorang, yang lain katanya sedang berburu. Sambil ngobrol kusempatkan minta air, karena kami lagi malas turun ke sumber yang jaraknya 150 meter dari POS 3. Hanya 20 menit kita disini.

Siap dan siap

Siap dan siap

Jalur ke POS 4 lebih menanjak dari pada jalur – jalur sebelumnya. Kalaupun ada turunan lumayan curam. Hingga beberapa saat kemudian .. “ Aaaarrrghhh…….. anc*#**** !!! “. Perih, panas entah apalagi. Ada sesuatu yang menusuk kelingking kiriku, padahal aku memakai sarung tangan semi kulit. Ku dengar Chimot tertawa kecil sambil menunjuk ke arah depan. Sial, terlihat hamparan tanaman yang namanya dipake oleh musuh Mas Bruce Wayne, Poison Ivy, alias jelatang/jancukan. Dan aku baru saja merasakannya. Bisa dikata lepas dari mulut pacet , masuk ke ladang jelatang. Kewaspadaan pun kami tingkatkan, karena kami terbiasa meraih ranting, dahan atau belukar dan menerobos ilalang saat berjalan. jangan sampai si beracun ini kembali tersentuh !!!

Toxicodendron Radicans alias Jelatang/Jancukan

Toxicodendron Radicans alias Jelatang/Jancukan

Satu jam dari POS 3 kami sampai di POS 4. Tidak ada shelter disini, hanya tanah datar dengan pohon – pohon yang menjulang tinggi. Vegetasi sudah berubah, tidak selebat jalur POS 1 – POS 3. Baru saja kami menaruh beban untuk sholat, hujan kembali hadir membawa resah. Kami pun sholat di bawah siraman hujan ber-sajadah tanah basah. Terasa syahdu, khidmat dan khusyu. Serasa menyatu dengan alam, hingga Chimot bergidik menahan sakit. Rupanya saat sujud, hidungnya mencium jelatang muda ………

Selepas POS 4 Chimot masih meringis. Jalur menuju POS 5 lumayan aman dari jelatang, meski tanjakannya semakin curam dan hujam mendera. Vegetasi tinggi semakin jarang tekanan udara semakin pekat. Warna senja sore yang menembus diantara pepohonan seperti memberi nuansa kedamaian, sekaligus tekanan untuk segera mempercepat langkah. Lapar dan lemah mulai terasa, maklum kami cuman sarapan energen dan susu coklat saja. Sedangkan dalam perjalanan kami hanya makan coklat Blitar.

Sampailah kami di POS 5 sesuai target sebelum waktu Maghrib. Sama dengan POS 4, tidak ada shelter, tapi kata Bang Ipul rencana akan dibangun shelter. Harusnya mentari belum berada di peraduannya namun kabut telah turun ,meniupkan butiran embun. Dengan nafas tersenggal di sini kami mendirikan tenda. Bersembunyi di sebuah lorong belukar agar terlindung dari angin gunung.

Pos 5

Pos 5

Jubah gelap begitu mesra menaungi rimba. Dingin menyeruak membisikan kewaspadaan. Butiran beras telah meregang dalam air yang panasnya dicampakan suasana. Wanginya merekah menodai pekatnya kelembaban. Waktu terasa berjalan begitu lambat saat organ dalam kami merintih kelelahan. Seteguk susu coklat kami paksakan untuk sekedar menyumpal keluhan. Canda tawa pun terlontar mengisi bisunya alam. Dalam suasana makan malam sederhana kami pun terhanyut dalam lantunan suara emas Chrisye dari sebuah smartphone mainstream dari China. Hidangan saat malam itu begitu mengagumkan. Mungkin karena jiwa kami masih menyala, tak seredup semalam.

“ jam 2 kita bangun, jam tiga kita summit attact , Freak “ ……………. Kata Chimot sebelum memejamkan mata untuk mengurai letih raga ………….

Advertisements

2 thoughts on “Tambora (2) : Meretas Jalan (Rimba) Raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s