Tambora (4) : Epilog


Tambora

Aku terbangun dari tidurku. Badan terasa ngilu dan pegal. Rupanya aku tertidur sesampai di tenda. Chimot sudah hampir selesai packing. Wajahnya terlihat lesu. Tergambar ada sebuah ketidakpuasan dalam wajah resahnya. Guratan dalam dan jelas diwajahnya seperti bercerita betapa panjang perjalanan dalam mengarungi pahit, manis, asam dunia. Begitu lelah dan tua …… Hayah ngomong apa ini

Tapi memang meski kami mencapai puncak, kekecewaan tidak bisa melihat panorama kaldera membekasi begitu dalam. Lebih dalam dari sekedar perasaan jengkel saat menginjak “letong” sapi 2 hari kemarin. Kata Chimot “ Kita memang memiliki raganya , tapi tidak cintanya”, sambil matanya menerawang jauh ke arah Timur dan mulutnya sedikit terbuka. Mungkin maksud dia sekalian minum embun yang terbawa angin. Seketika aku ingat kisah percintaan Chimot yang selalu menjadi bahan lelucon Mantos dan Edo. Mengenaskan ……

TAMBORA_19

Packing Chimot selesai, ganti aku. Aku memang harus packing belakangan karena ada tenda yang harus masuk dibagian bawah. Chimot sudah ongkang – ongkang aku baru mulai. Ada perasaan aneh selama aku packing. Kami seperti tenggelam dalam seribu aksara. Kami pernah mengalami hal seperti ini di tahun 2011. Saat itu Chimot berkata di tepian Anak Segara, Rinjani “ Kita memang memiliki cintanya, tapi tidak raganya …” , dengan hati yang lebam biru setelah dihantam kegagalan menjemput impian di puncak  Rinjani.

Packing selesai ,kami pun berangkat. Target kami adalah POS 1. Kami berencana bermalam di sana. Estimasi kami , kami bakal kemalaman kalo memaksa sampai Desa Pancasila. Berjalan dimalam hari didampingi hujan dalam dekapan kecewa adalah hal  yang ga banget. Seperti video klip atau film yang sedang bercerita tentang kesedihan. Kami start jam 13.00 WITA.

Diluar perkiraan hanya 1 jam perjalan kami dari POS 5 sampai POS 3. Yup kebalikan saat naik, kalo soal turun, aku lumayan cepat dan Chimot kewalahan. 10 menit saja kami istirahat kami kembali melanjutkan perjalanan.

Berbeda dengan perjalanan POS 5 – POS 3, perjalanan menuju POS 2 lebih lama. Jalur lebih panjang, landai dan vegetasi lebih lebat, juga naik turun. Tidak ketinggalan si pacet. Aku sempat terpeleset beberapa kali karena jalan yang licin dan basah.  Dan beberapa waktu kemudian , ahh… hujan lebat lagi. Setelah berjalan hampir 2 jam kamipun istirahat. Ku amati air minum yang mulai menipis. Selintas daun dan tanah mengendap di dasar botol. Sekejab muncul tanya, ini tanah atau eek ?

Waktu mendekati 16.30, akhnirnya kami menemukan sungai. Ini pasti sungai dibawah POS 2. Chimot langsung minum itu air sungai, begitu pun aku. Wah nikmat sekali. Pertanyaan tadi benar – benar lenyap dari ingatan.

Kami putuskan bermalam di POS 2. Chimot yakin aku pasti lemah saat mentari berpulang di peraduan. OK lah.

…….

“ 90 % aku gantung tas “ Kata Chimot

Kamipun kembali larut dalam perbincangan tentang bagaimana berkompromi dengan dunia …………

Rabu, 11 Maret 2015

Kami sudah siap menuju Desa Pancasila. Estimasi kami akan sampai 17.00 WITA. Kami terpaksa start pukul 11.00 WITA, karena menunggu hujan yang tiada kunjung reda. Kami sampai POS 1 pukul 13.00 WITA. Tidak pake lama, selesai isi ulang air kami langsung berangkat. Strategi 10-2 dan 30-5 mulai kami terapkan, karena kami mulai kelelahan.

Terpeleset dan terpeleset. Tidak terhitung aku terpeleset. Chimot hanya 2 kali seingatku. Di salah satu waktu aku terpeleset, Chimot sempat tertawa kecil. “ Uripmu koq rekoso men tho, jatuh bangun …. “. Hampir mirip omongan Si Uda, kolega di tempatku menjemput rezeki. Dia pernah bilang “ jalan hidupmu koq berat ya “. Dan aku selalu ngeles sekedar menghibur hati “ This’s path of the king. “. Hehehehe….. Dan di perjalanan setelah POS 1 aku semakin waspada, karena aku ga mau kembali menginjak kotoran sapi. Yup, kesalahan terbesar adalah kesalahan berulang.

Dalam perjalanan kami bertemu serombongan pendaki. 1 orang guide, 1 orang fotografer dan 1 orang porter. Dengan sengaja kami bercerita “ wah parah Mas, kabut pekat. Putih semua. Sama sekali ga kelihatan kalderanya. Pokoknya ga bisa di foto deh”. Ada kepuasan kami ketika melihat raut muka sang fotografer yang seperti shock. Dengki nian kami ini.

Akhirnya kami sampai di Shelter 3 Baru. Cukup lama berhenti disini hampir 20 menit. Sudah dekat, sudah dekat dan sudah dekat. Shelter 2 Baru dan Pintu Rimba terlalui dengan lancar. Mulai dari sini tantangan kami adalah terik matahari sore. Kurang lebih setengah jam kami sampai di Shelter 1 Baru. Sambil istirahat kami berbincang dengan para warga setempat. Hal yang hampir tidak kita lakukan saat melancong atau nge-mall.

Yes …kulihat tikungan terakhir menuju Base Camp K-PATA. Namun sebuah truk terdiam terperosok di jalan yang akan kami lalui. Aku berhenti dan kutunggu Chimot yang meringis memicingkan mata karena silau matahari. Kami pun mengambil jalan memutar. Sedikit lebih jauh.

Alhamdulillah sampailah kami di Base Camp. Segera kami copot sepatu. Bengkak, pucat  dan kuku hitam. Kami mengabaikannya sementara untuk bergegas bersih – bersih untuk segera menuju ke warung Mbok Sum untuk membayar hutang tidak sarapan tadi pagi.

———————————

Jumat 13 Maret 2015

Tambora

Di balik jendela AirBus jurusan Bima – Denpasar, kami mengintip Sang Tambora. Puncaknya masih berselebung awan gelap. Entah kenapa kami senang.

“ Gimana Kerinci , Freak ? “

“ Agung dulu aja. Dia sudah terlalu lama menggodaku “ ………………………..

Koordinat POS TAMBORA via Desa Pancasila

TAMBORA Format Altitude Altitude

Deg/Min

Deg GPS Barometer
PUNCAK Lat 8°14,81832′ S -8,246972 2737 2600
Long 117°57,48499′ E 117,958083
Pos V Pos V Jalur Pancasila Lat 8°13,83336′ S -8,230556 2062 1945
Long 117°56,56501′ E 117,94275
Pos IV Pos IV Jalur Pancasila Lat 8°13,695′ S -8,22825 1890 1795
Long 117°55,99002′ E 117,933167
Pos III Pos III Jalur Pancasila Lat 8°13,26168′ S -8,221028 1615 1540
Long 117°55,49502′ E 117,924917
Pos II Pos II Jalur Pancasila Lat 8°12,58332′ S -8,209722 1283 1215
Long 117°54,08502′ E 117,901417
Pos I Pos I Jalur Pancasila Lat 8°12,01764′ S -8,200294 1085 1040
Long 117°52,47499′ E 117,874583
SH III Shelther III Jalur Pancasila Lat 8°11,70418′ S -8,19506967 665
Long 117°50,66688′ E 117,844448
SH II Shelther II Jalur Pancasila Lat 8°11,65085′ S -8,19418081 610
Long 117°50,20643′ E 117,8367738
PH Pintu Hutan Lat 8°11,56884′ S -8,19281401 575
Long 117°49,95241′ E 117,8325402
SH I Shelther I Jalur Pancasila Lat 8°11,57927′ S -8,19298778 515
Long 117°49,41065′ E 117,8235108
BC Base Camp K-PATA Lat 8°11,19649′ S -8,18660817 480 480
Desa Pancasila Long 117°48,72438′ E 117,812073

 

mega terajut lembut oleh jemari waktu

membungkus pedih tentang mimpi yang tak terjemput

aku terus saja mengurai makna yang membisu

di atas larik larik jarak yang tertempuh

kenangan haru itu pun membaur dalam kidung

 

tajuk rencana telah tercampakkan

oleh sebentuk kesepian

terjatuh, terpuruk, terkapar

tiada tahu sampai kapan bertahan

 

dan kembali aku teringat pada dia yang tak pernah datang

sunyi nan gelap ……

(fin)

Advertisements

One thought on “Tambora (4) : Epilog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s