Baluran, Afrika Mini di Timur Jawa


11742681_10152990615132227_7630077257849981590_n

Rupanya semangat liburan membuat tidur tidak pulas. Jam dua aku dah sterbangun, meski empuknya Kasur dan hawa dingin pegunungan merayu mata untuk kembali terpejam. Kuambil HP untuk melihat notifikasi CC123 dan aktifitas BB grup. Alhamdulillah tidak ada gangguan.

Menjelang jam tiga, semua pada sibuk bersiap. Hanya Ervan yang belum juga nongol. Mungkin sedang pulas abis bermain sama istrinya. Sungkan juga mau bangunin, tapi kalo tidak dibangunin, mau berangkat jam berapa. Ku putuskan untuk menunggu saja. Tiba – tiba pintu kamar terbuka, rupanya Ervan sudah siap dengan tas kamera dan tentu saja celana coklat “mbulak” yang selalu dia pake kalo main sama aku. Sip lah , kamipun berangkat menuju Baluran.

Malam itu langit terang sekali. Bintang bertaburan tanpa terhalang awan. Meski PJU jarang Mahe tidak kawatir ngebut menembus malam ke arah Situbondo – Batangan sepanjang 60 km. Kami menyusuri Jalan Raya Jendral Soedirman Situbondo – Banyuwangi tanpa halang, meskipun sempat ragu karena merasa tidak sampai – sampai. Berkali – kali aku cek Google Map, sekedar memastikan we’re on the track. Apa dikata terkadang tidak ada singnal. Untung suara berisik di belakang yang sedang kelaparan bikin perjalanan tetap menenangkan.

11707453_10152990617067227_5543793473551164082_n

11800609_10152990619607227_7216238318624513437_n

Jam lima, kami sampai di gerbang Taman Nasional Baluran. Melihat gerbang yang masih tertutup meluruhkan kami untuk menangkap gugus bintang dengan kamera. Kamipun mencari mushola dan sarapan pagi di sekitar situ.

Bal_01

Jam tujuh. TN Baluran sudah dibuka. Dari loket hingga ke padang savanna kami tempuh waktu 1 jam lebih dengan jarak 12 km. Kondisi jalan “makadam”, sama sekali tidak bisa dilalui dengan kecepatan diatas 15 km/jam. Mungkin dengan beginilah kita bisa menikmati suasana hutan konservasi suaka margasatwa yang pada tahun 1937 ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa melalui oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda melalui ketetapan GB. No. 9 tanggal 25 September 1937 Stbl. 1937 No. 544.

11813378_10152990646172227_8960020297103807264_n

11750614_10152990624142227_5359567690351273695_n

Aku pulang kawan

Ku bawa sesal sebagai buah tangan

Pahitnya begitu pekat

Sudah banyak sajak petualangmu tanpa namaku

Terlalu banyak cerita kelanamu tanpa peranku

Aku yang kemarin sengaja menghilang

Aku yang kemarin membelakangi dunia

Hari ini

Kembali kita bersama terbakar matahari

Kembali kita bersama bercorengan debu

Ada haru di sela derai tawa

Di savanna Bekol, Kau pegang tanganku

Menuliskan kata ” keluarga ”

20230_10152990644912227_6973016132442454800_n

Koq tidak ada banteng dan rusa ya ? hanya kera ekor panjang yang terlihat ribut bersama kelompoknya. Padahal icon Baluran Bos Javanicus. Mungkin sedang sembunyi.

11800324_10152990638082227_2386931033952836921_n

11781758_10152990639127227_6635713499144207191_n

Dari Savanna Bekol kita menuju ke arah timur, pantai Bama. Baru lah kami melihat Banteng. Ga mau kehilangan kesempatan, kami berusaha mendekati untuk memotret. Si Banteng lagi berendam di lumpur. Sayang kami ditegur Ranger untuk tidak mendekatinya. Bahaya katanya. Kamipun melanjutkan ke Pantai Bama. Dalam perjalanan menuju Pantai Bama, terlontar keinginan kami untuk suatu saat menginap di sini, sekedar menikmati sepi nya alam , sun rise , sun set atau mendaki Gunung Baluran.

Bal_02

Hanya satu jam kami menikmati Pantai Bama, kami bergegas menuju Banyuwangi untuk mengantar teman menjemput  impian ……………..

11760062_10152990643937227_3982716049190351378_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s