2 Presiden Tak “Resmi” NKRI


Perjalanan sejarah Republik ini belumlah jauh bila dilihat dari waktu. Namun meskipun masih muda, gejolak dinamikanya begitu terasa. Era Revolusi Kemerdekaan , era pembangunan nasional, Era Tinggal Landas, kemudian era Reformasi. Ada yang mentebut Orde Lama, Orde Baru lalu Orde Reformasi. Dari sekian istilah zaman itu , secara “resmi” hanya enam individu yang disebut sebagai Presiden Republik Indonesia, padahal ada dua nama lagi yang kelihatannya terlindas tinta – tinta penulisan sejarah.

Di Tahun 1948, karena Agresi Militer Belanda II, dibentuklah pemerintahan darurat demi Kontinuitas Republik dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Saat itu Presiden, Wapres dan Perdana Menteri RI ditangkap di Yogyakarta. Terjadi kekosongan pimpinan negeri ini yang bisa berarti bubarnya RI.

Sebelum ditangkap Soekarno sempat menulis dua buah kawat yang memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat dan kepada A.A. Maramis bila Syafruddin P. Gagal.

22 Desember 1948, Pemerintahan Darurat terbentuk dengan Presiden (atau sampai saat ini disebut Ketua ) Syafruddin P. Saat pembentukan tersebut ternyata kawat dari Soekarno belumlah diterima oleh yang bersangkutan. Keberadaan Pemerintahan Darurat ini menimbulkan dualisme kepemimpinan di Sumatra dan Jawa. Namun dengan konsolidasi yang matang akhirnya semua berjalan sebagaimana mestinya hingga mandat dikembalikan lagi pada 14 Juli 1949.

Jadi apakah Syafruddin hanya sekedar “Ketua “ ?

Nama kedua adalah Mr. Assaat.  Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar adalah terbentuknya Republik Indonesia Serikat dimana RI adalah bagian dari RIS. Presidennya adalah MR. Assaat. Pribadi yang menentang politik Demokrasi terpimpin ini menjadi Acting President dari Desember 1949 sampai “reborn” NKRI 17 Agustus 1950. Meski hanya sekian bulan sudah layaknya beliau “dihargai” sebagai salah satu Presiden resmi Republik ini.

Republik ini masihlah anak ABG yang sedang mencari jati diri. Mungkin Indonesia adalah Nusantara tapi bukanlah Sriwijaya , bukan pula Majapahit dimana sejarahnya kadang diragukan karena sedikitnya sumber. Jadi ada baiknya sejarah itu ditulis tidak hanya sebagai hegemoni penguasa namun sebuah material pembelajaran yang bersifat objektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s