Kumbakarna, Adipati Karna & Soekarno


Pahlawan atau idola adalah tokoh yang dipuja karena beberapa hal. Secara umum pahlawan atau idola selalu digambarkan sebagai sosok yang (mendekati) sempurna. Hebat, tangguh, berani, gagah, cerdas dan cerdik adalah beberapa criteria yang harus dimiliki oleh pahlawan. Kalau kaum hawa malah cukup simple kriterianya Rupawan. Tapi yang paling utama dari semua itu adalah membela kebenaran.

Dalam pewayangan, sebut saja Pandawa Lima. Bagi orang yang mengagungkan kegagahan dan keberanian pasti akan memilih Bima / Werkudara. Bagi perempuan so pasti Arjuna, satria paling tampan, paling sakti dan paling banyak istrinya (144 istri ) diantara Pandawa Lima. Gatotkaca, putra Bima, juga merupakan idola yang paling popular. Bagi yang mengedepan kecerdasan dan kearifan akan condong kepada Kresna, sang titisan Wisnu. Duryudana ? Dursasana ? ga bakal ada. Dua yang saya sebutkan terakhir akan menjadi perumpamaan manusia yang culas dan serakah mengingat dalam cerita pewayanagan Mahabarata kelakuannya benar – benar keterlaluan.

Ketika kecil aku ngefans banget dengan Bima. Badan besar, paling kuat tenaganya dan cerdas pula. Tapi seiring perkembangan otak beralihlah aku pada sosok Kumbakarna.

Kumbakarna (pengucapan Jawa : Kumbokarno) adalah seorang raksasa adik dari Rahwana yang gugur dalam pertempuran melawan balatentara kera Kiskenda. Raksasa yang besarnya melampui ukuran – ukuran raksasa lainnya, apalagi telinganya yang besarnya tidak seproporsi ukuran tubuhnya. Telinganya sangat besar, dari situlah nama Kumbakarna muncul. Wajahnya tentu saja buruk rupa, tapi tidak dengan hatinya. Dia kalo sudah tidur memakan waktu 6 bulan dan sulit dibangunkan.

Saat penyerangan Sri Rama terhadap Alengkadiraja, Kumbarna dibangunkan oleh Rahwana. mendengar penjelasan asal muasal penyerangan tersebut, dia jelas menentang apa yang dilakukan oleh kakaknya. Namun ketika Rahwana memintanya berperang karena Negara yang telah memberikan dia makan bukan untuk membela kakaknya, dia berangkat. Sebuah sifat patriotism, Right or Wrong, it’s my land !!! Kumbakarna mati dengan cara dimutilasi oleh Sri Rama ( versi lain oleh Laksmana ). Kumbakarna berperang karena kewajibannya sebagai ksatria yang membela tanah air.

Tokoh lain adalah Adipati Karna/Karno, panglima perang hastina pura dalam perang besar barata Yudha di padang Kurusetra. Dia lahir dari seorang putri raja yang iseng – iseng membaca mantra “bercinta” dengan dewa Surya, Dewi Kunti, Ibunda Pandawa Lima. Secara normal bayi lahir lewat “pintu bawah” wanita, karena Dewi Kunti tidak mau kehilangan keperawanannya, maka lahirlah lewat lubang lain. Lubang telinga. Karena itulah namanya Karna. Karena untuk menutupi aib sang bayi dibuang.

Sang bayi ditemukan dan diasuh oleh Adirata, kusir hastinapura. Sebagai Demigod, karna memiliki kemampuan melebihi kemampuan manusia biasa, seperti halnya Pandawa Lima yang merupakan putra dari Dewa Dharma, Dewa Bayu, Dewa Indra dan Dewa Aswin.

Dalam suatu peristiwa, adu tanding antara Kurawa dan Pandawa, saat mereka muda, Karna diajak oleh Kurawa untuk ikutan. Namun Pandawa menolak dengan alasan , karena Karna adalah anak Kusir yang tidak level dengan mereka yang notabene adalah pewaris Kerajaan HastinaPura. Dengan bantuan Kurawa, Karna terangkat derajatnya. Pada saat itu Kunti mengenali putra sulungnya namun dia memilih diam ketika karna dilecehkan oleh adik – adiknya. Tidak itu saja penghinaan yang diterima oleh Karna. Karna pernah ditolak oleh Drupadi (istri Pandawa) saat sayembara pencarian calon suami untuknya, dengan alasan sama, karna adalah anak Kusir dan bukan dari golongan Satrya.

Menjelang Baratayudha, Kresna dan Kunti menemuinya untuk mengajak bergabung bersama Pandawa. Tentu saja semua karena Karna memiliki Pusaka paling sakti di dunia pewayangan, tombak Konta Wijaya. Siapapun pasti mati bila terkena senjata ini, bahkan seorang titisan dewa sekalipun. Senjata ini diperoleh dari Dewa Indra yang meminta baju perangnya. Baju perang Karna merupakan pelindung yang tidak bisa ditembus oleh senjata apapun, setingkat lebih tinggi dari baju perang Gatotkaca. Sayang senjata Konta Wijaya hanya dapat bisa digunakan sekali, dan itu direncanakan untuk membunuh Arjuna.

Segala cara dilakukan Kunti agar Pandawa tidak mati, termasuk mengakui Karna sebagai anaknya. Karna menolak, baginya ortu sejatinya adalah Adirata dan Radya yang telah mengasuhnya sejak kecil, bukan Kunti yang membuangnya demi menutupi rasa malunya. Meski begitu, Karna memenuhi permintaan Kunti untuk tidak membunuh Pandawa, kecuali Arjuna dan meminta Kunti untuk tidak memberitahukan jatidirinya kepada Pandawa biar Arjuna serius melawannya. Dan Kuntipun  tidak pernah meminta para Pandawa untuk tidak membunuh Karna………….

Meski menurut Kresna, seorang Satrya pada hakikatnya adalah bertugas melenyapkan angkara murka, Karna tetap keukeuh berada di posisi disamping Duryudana. Bukan sekedar karena rasa terima kasih kepada Kurawa yang telah memberinya derajat, bukan diangkat sebagai saudara oleh Kurawa namun dia memiliki keyakinan atau karena dendam atas perlakuan Pandawa dan Sang Ibu, tapi lebih ke prinsip kesetiaan dan cinta tanah air. Dia sudah tahu, Kurawa pasti kalah dan dia pasti mati sebagai tumbal untuk kebahagiaan Pandawa mendapatkan kembali tahta Hastinapura sekaligus melenyapkan angkara murka.

Indonesia memiliki Karna juga. Soekarno, presiden pertama NKRI. Kita sudah tahulah apa yang telah beliau lakukan. Termasuk bersikap diam ketika bangsanya mengasingkan dirinya dari dunia, keluarga dan informasi. Beliau diam , tidak protes dengan yang sedang dia alami adalah demi kestabilan Negara ini yang baru saja tenang setelah dihantam oleh drama tragedy pengkhianatan beberapa putra bangsa negeri ini. Beliau masih memikirkan negaranya meski Sang penguasa baru memperlakukannya begitu tidak layak , bahkan sampai sudah di cabut nyawanya dan terkubur dalam rahim Pertiwi.

(Cerita tentang nama Soekarno akan dibahas dilain kesempatan……….. )

Ketiganya memakai nama Karna yang berari telinga. Indra pendengar yang menangkap informasi untuk ditelaah dengan logika dan hati. Tidaklah mungkin seorang bisa bertindak bijak tanpa terlebih dahulu mendengar dengan seksama suatu informasi .

Dari situlah dasar dari penamaan blog ini. Selain sesuai lafalnya yg berarti engineer, namun yang lebih dalam adalah kata EAR itu sendiri. Telinga …………….

Advertisements

One thought on “Kumbakarna, Adipati Karna & Soekarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s