Sembalun, Menjelang Pendakian Rinjani


Terasa penat menghimpit hati. Rutinitas yang sebenarnya tidaklah berat dan tidak selalu membebani fisik dan pikiran ternyata tetap saja melahirkan kejenuhan. Tidak hanya rutinitas tapi juga satu dua masalah yang mengusik kesabaran. Sampai – sampai tidak sengaja kami mengeluh “ Ah berat banget hidup ini “.

“ Naik gunung Yuk “, ajak Mantos. “ April kita ke Rinjani, gimana ? “ ,tanya Chimot. “ OK tok ! “, respon Ervan. “ Budhal (berangkat )!!!, kata Edo begitu antusias. Satu waktu  yang selalu kami rindukan, berkumpul bersama memaki usia, mencela letih dan memuja Sang Esa.

Dalam keterbatasan financial, kenekatan seakan candu yang mematikan pola pikir “ kami harus nabung “. Untuk apa kami nabung banyak kalau esok pagi mati, ah cara pikir yang egois meski bukan bodoh. Tapi ini masalah persahabatan antara lelaki, sebuah ikatan yang lebih hebat dari sekedar pertemanan dan percintaan dengan perempuan. Sebuah ikatan yang merapatkan hati yang saking rapatnya kadang timbul gesekan, gesekan yang menipiskan kulit hingga terluka.

Rencana mendaki Rinjani terlontar sebelum ad aide berbackpak ke LN. Rencana ini pun menjadi prioritas kesekian setelah rasa ingin mengenal belahan dunia lain meraja benak.

Apa yang kuinginkan selalu terwujud meski harus tertunda. Jadi ketika sebuah rencana terlihat tidak akan terwujud di waktu yang diinginkan aku tidak berusaha terlalu risau. Suatu saat pasti terwujud. Itu pasti.

Dan terwujudlah pendakian Rinjani itu. Meski dahulu direncanakan ada 6 orang, dan sekarang hanya 5 orang namun tidak mengurangi antusiasme. Malam. tanggal 20 bulan April 2011 kami sudah di kaki gunung Rinjani, Sembalun.

Purnama tersenyum ramah di rindangnya kegelapan malam. Secangkir kopi susu melebur beku Sembalun. Gelak tawa sahabat seakan tumpah ruah dalam kerinduan sekian waktu tidak bertemu. Listrik padam menambah suasana kesederhaan desa. Sang Rinjani masih berselimut kelam, tiada terlihat namun namanya begitu menggema di hati kami. Tidak sabar kami untuk digembleng , tidak sabar kami merasakan liarnya, tidak sabar kami meniti setapak demi setapak jalan menuju puncak tertinggi ketiga Sang Nusantara.

Tersekap dalam bunga tidur. Empat jam terlalui begitu cepat. Sang fajar menjemput matahari. Pagi telah tiba. Saatnya bersiap menerima pelajaran dari Sang Rinjani…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s