Funny stories


Selama dalam perjalanan ber-backpacking ke mancanegara, tentu saja banyak hal-hal konyol yang pernah kami lakukan, yang jika diingat-ingat kembali akan membuat kami tertawa terpingkal-pingkal, menjadikan kenangan yang menyenangkan.
Sebelumnya, bisa baca artikel ini: Stupid Indonesian.

On the subway.

Sebagai orang udik yang baru pertama kali melihat dan merasakan kemajuan teknologi, yang biasanya cuma bisa dilihat di film-film, adakalanya ingin merekam momen-momen berharga tersebut. Kereta bawah tanah adalah hal langka bagi orang-orang kampung yang pada saat itu baru pertama kali keluar negeri seperti kami ini. Pengecualian tentu saja untuk Mantos, orang dari kampung terpencil di Klaten sana, namun sudah pernah ‘mengekspor’ diri ke Perancis, bercengkrama langsung dengan gardu listrik terbesar didunia, Eiffel. Subway mah tai kucing bagi dia.

Setelah seharian bekeliling kota Bangkok, kita kembali ke hostel menggunakan MRT (subway). Karena kita masuk dari starting route MRT di Hua Lamphong, maka kereta pun masih menunggu jadwal berangkatnya. Pintu masih terbuka, namun penumpang sudah banyak. Mantos, Ervan, Edo, dan Purwo masih kebagian tempat duduk. Saya dan Son tidak. Kami berdua berdiri. Son dengan style-nya, dengan headset ditelinga yang mungkin sedang menyetel musik rock favorite-nya, yang merasa musik adalah bagian hidupnya, sambil menunggu kereta berangkat mengeluarkan kamera pocket Sony miliknya. Kemudian saya melihat dia melihat dengan serius display kameranya tersebut. Saya pikir dia mungkin sedang me-review hasil jepretannya tadi. Saya pun bosan menunggu kereta berangkat kemudian mengajaknya ngobrol.

Son, bla…bla…bla…bla…”, ujar saya lirih, karena tidak ingin menggangu penumpang yang lain.

Bla…bla…bla…”, saya berkata lagi.

Tiiiit….tiiiit….tiiiit……. Tanda bahwa pintu kereta akan menutup, kereta akan berangkat.

Son mungkin tidak begitu mendengar omongan saya, karena ada headset ditelinganya. Tapi dia melihat gerakan tangan, bibir, dan ekspresi wajah saya yang mengajaknya ngobrol.

Bla…bla…bla…bla…”, omongan saya berlanjut.

Pintu kereta menutup. Ada jeda sebelum kereta bergerak, membuat keadaan benar-benar senyap.

Masih senyap.

”MENENGO MOT, AKU SIK SHOOTING IKI LHO….!!!??!!”
(diam Mot, saya lagi shooting ini lho).

Bagai ada petir menyambar. Seluruh penumpang digerbong terkejut, dan melihat kearah sumber suara, yaitu Son. Beberapa orang digerbong sebelah juga sebagian menengok Teman-teman yang lain yang sedang tertuntuk mengantukpun terperanjat. Saya yang didepannya yang mengajaknya ngobrol saja kaget. Spontan saya memberi isyarat jari teluntuk dibibir saya, menyuruhnya untuk diam.

“OPO..!!!??!”, Son masih berteriak.

Sayapun menarik lepas headset ditelingannya. Kemudian saya tertunduk malu (apalagi yang bersangkutan ya 🙂 ). Dan melihat sekilas teman-teman dan penumpang yang lain tertawa cengengesan.

Keretapun bergerak, menimbulkan suaranya tersendiri. Yang sedikit menelan kejadian konyol tadi. Ternyata Son tadi memegang kameranya adalah untuk merekam keadaan dalam kereta.

It’s shoping time.

Ben Thanh Market, merupakan central market terbesar di Ho Chi Minh City, Vietnam, yang menjual berbagai macam barang dagangan. Mulai dari, pakaian, perhiasan, souvenir, makanan bahkan hingga kebutuhan sehari-hari. Seperti Chatuchak Weekend Market, jika di Bangkok. Atau mungkin seperti JMP atau Pasar Turi, jika di Surabaya, tempat saya tinggal. Walaupun bentuknya bukan plaza bertingkat, melainkan satu lantai saja.

Saya dan Son sangat antusias dengan yang namanya belanja. Bukan karena saya dan Son sudah teracuni sifat dasar kaum hawa, namun lebih karena tuntutan. Son dititipi kakaknya untuk membelikan kopi Trung Nguyen, kopi khas Vietnam (kabarnya Vietnam sudah menyangi Brazil sebagai penghasil kopi nomor satu), dan juga kaos untuk sahabat kami Edo. Saya sendiri juga ingin berburu kaos untuk ketujuh ponakan saya, dan titipan hiasan tembok untuk kakak-kakak saya. Mantos dan Ervan sendiri tampaknya kurang antusias dengan namanya belanja. Sedikit terpaksa mengikuti jejak kami menjelajah isi pasar.

Blusak-blusuk masuk diantara kios-kios, langkah Mantos terhenti didepan sebuah kios yang menjual kaos khas Vietnam. Kaos dengan warna dasar merah dengan lambang bintang berwarna kuning didadanya. Lambang bendera Vietnam. Melihat Mantos tampaknya tertarik, ibu penjual tersebut langsung antusias.

“This t-shirt 90.000 dong”, ujar ibu penjual tersebut.

Mantos memegang kain kaos tersebut, dan meraba sablonannnya.

Kemudian berguman pelan kepada saya, “Kainnya jelek, tipis”.

Mantos pun tampaknya langsung ilfil (ilang feeling), karena setiap ucapan penjualnya ditanggapi dengan wajah datar-datar saja.

“Bla…bla…bla…bla…”, ibu tersebut memberikan penjelasan.

“You can see another t-shirt”, ujar ibu penjual tersebut masih antusias.

Wajah Mantos masih lempeng dot com.

Ibu penjual tidak mau menyerah.

“This t-shirt, you can bargain”, sambil menyerahkan kalkulator dengan harapan mantos melakukan penawaran harga untuk kaos tersebut, dan mengetikkan nilainya di kalkulator tersebut.

“Sory”, ucap Mantos sambil melambaikan tangannya (mungkin dengan wajah calon pembeli yang menyebalkan) dan berlalu meninggalkan ibu penjual tersebut.

Tiba-tiba ibu penjual tersebut memegang pundak Mantos. Dan…JLOOOKKK……pantat Mantos ditendang.

Mungkin dalam hati ibu penjual itu, “Sialan, kalau tidak niat beli ya tidak usah mampir. Atau kalau tidak jadi beli ya paling tidak bilang tidak cocok harga, motif, atau bahan lah. Basa-basi sedikit lah. Ini tidak responsif sama sekali. Dan nglonyor aja.” Hahahaha……

Cerita dari yang bersangkutan bisa dibaca disini.

Auman serigala dibawah purnama.

Untuk menuju Laos (Lao PDR), dengan jalur darat dari Thailand bisa ditempuh melalui border Friendship Bridge. Destinasi kami berikutnya adalah Vientiane, Ibukota laos. Langkah awal kami yaitu naik kereta api jurusan Bangkok – Nong Khai. Kami mengambil tiket 2nd class seat AC. Berangkat jam setengah tujuh malam.

Setelah masuk kereta, ternyata dinginnya minta ampun. Serasa dipuncak gunung. Seluruh syaraf ditubuh saya berontak. Sudah pakai jaket tebal begini masih menggigil kedinginan. Gila ini kereta. Habis isi freon apa. Begitu kereta bergerak, selimut pun dibagikan. Tidak menunggu lama, langsung saja saya buka dan saya tutupi sekujur tubuh dan kepala saya. Krukupan, dalam bahasa Jawanya. Ervan menarik rapat resleting jaketnya, dan menarik jaketnya tersebut keatas menutupi kepalanya. Selimutnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Mantos, menggunakan syal hadiah hostel di Kamboja untuk menutupi wajahnya. Kepalanya dibungkus penutup kepala jaket, dan selimut menutupi bagian bawah tubuhnya. Son juga sama tidak karuannya. Penumpang lain, yang saya pikir sudah terbiasa, karena tampaknya mereka santai-santai saja pada awalnya, selimut hanya digunakan untuk menutup kaki mereka, ketika waktu tidur tiba ternyata selimut juga mereka gunakan untuk menutup sekujur tubuh mereka, termasuk kepala.

Tidur pun rasanya tidak nyenyak sama sekali. Sedikit-sedikit terbangun untuk mengganti posisi tidur. Berbagai posisi saya coba. Mulai kaki selonjor, kaki bersila, mlungker kanan, mlungker kiri, nungging.

Ditengah tidur saya yang kesekian kalinya, ditengah malam, dalam mimpi saya mendengar teriakan, “AOUWWWW……OOOOUUUWWW…..”

Kemudian masih berlanjut.

“AOUWWWW…..WOOOOOO…..AAAAAAAA……AOUWWWWW…….”

Saya pun terperanjat bangun. Ini bukan mimpi.

Ternyata Mantos yang tidur disebelah saya berteriak keras sekali. Seperti auman serigala dibawah sinar bulan purnama.

“AOUUUWWWWW…..AOUUWWWW…..JIANNNNCC*^(*&^##$%&KKKK…..AUUWWWWWW…..”

Dalam posisi kepala saya yang sebagian masih tertutup selimut, sekilas melihat seluruh penumpang digerbong yang terbangun dan melongo menatap Mantos. (bentuk tempat duduk dikereta ini, separuh gerbong kursi menghadap kedepan kereta, dan separuh gerbong menghadap kebelakang. Sehingga bentuknya saling berhadapan antara separuh gerbong dengan separuh yang lain. Dan kebetulan saya dan mantos duduk paling depan. Berhadapan langsung dengan separuh gerbong yang lain). Petugas kereta yang kebetulan tidur dikursi sebelah saya pun terbangun, dan ngomel dalam bahasa Thailand. Entah ditujukan kepada saya, yang kebetulan duduk disebelah Mantos, ataukah kepada Mantos langsung saya tidak tahu.

Saya yang karena malu, tidak sedikitpun menoleh kearah Mantos maupun kepenumpang yang lain, dengan harapan agar saya dikira masih tidur. Saya pun menyikut dengan keras tubuh Mantos agar Mantos tersadar.

“AOUWWWW…..AUWWWWW…..AOUWWW……”, Mantos masih saja berteriak.

Tepat disikutan keempat atau kelima Mantos berhenti berteriak. Saya tidak berani langsung bertanya, karena malu. Tak berapa lama dalam suasana yang menjadi hening tersebut, saya pun akhirnya tertidur lagi.

Setibanya di stasiun Nong Khai, di pagi harinya, saya pun bertanya untuk memastikan apakah kejadian malam tadi itu hanya dalam mimpi saya ataukah benar kenyataan.

“Iyo, aku yo krungu Mantos bengak-bengok”, ujar Ervan membenarkan.
(iya, saya juga mendengar Mantos berteriak-teriak)

Yang bersangkutan tampaknya malah tidak sadar.

Setelah lama memikirkan tampaknya Mantos menyadari sesuatu.

“Loh, kui tenanan tho. Soale aku ngipi delok kabeh penumpang kui pocongan. Nang sandingku yo ono pocong sisan. Terus aku mbengok-bengok kewedhen”, ujar Mantos.
(Lho, semua itu kenyataan ya. Soalnya saya bermimpi melihat seluruh penumpang itu adalah pocongan. Dan disampingku juga ada pocongan. Terus aku berteriak karena ketakutan.).

Mantos berhalusinasi dalam keadaan setengah sadarnya dari tidur, seluruh penumpang termasuk saya yang duduk disampingnya adalah pocongan, karena memang kami menutupi seluruh tubuh hingga kepala kami dengan selimut.

Hahahaha…..

Advertisements

7 thoughts on “Funny stories

  1. Wuahahaha……………saya benar2 tidak sadar kalau saya berteriak waktu itu. Saya memang terbiasa memimpikan sesuatu yang saya pikirkan sebelum tidur, dan kebetulan waktu itu seluruh penumpang didepan saya menyelimuti tubuhnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan selimut yang mereka pakai berwarna putih bersih semua, hampir mirip “pocongan”. Dan sugesti itu masuk ke alam bawah sadar saya, terbawa lebih dalam ke alam mimpi saya. Saya bermimpi sedang berada di sebuah stasiun kereta api, dan dimana2 saya selalu melihat “pocongan”. Saya lari kemanapun “pocongan” tersebut terus mengejar saya, dan pada akhirnya saya berteriak sekencang2nya dimimpi tersebut. Sampai turun dari kereta saya benar2 tidak sadar kalau tadi malam saya telah melakukan tindakan yang memalukan di depan umum. Saya baru sadar ketika ervan bertanya pada saya ” Koen mau bengi nyapo bengok2″ (tKamu tadi malam ngapain berteriak teriak). Dan sejak saat itulah misteri ini terungkap. . . .Huahahahahaha lucuuu tenan rek, aku insomnia ra isoh turu moco tulisane chimot tambah ra ngantuk blas…..

  2. saya sudah sering mendengar orang mengigau dalam tidur, tapi tidak pernah yang seperti ini. teriakannya kenceng minta ampun hahaha… kalau diingat-ingat saya masih saja tertawa sendiri

  3. aouw aouw aouw aouw aouw . . .
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    gak iso mandek rek… tulong !!!

    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hoi tulong !!!!

    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    onok pocoooooooooooooooooong !!!

    taek tos2 wajah sangar wedine karo pocoong.
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
    pocooooooooooooong !!!

  4. mantos terkena serangan psikologis jane, gadis penjual postcard di angkor archeological park. “If you don’t buy, you will cry” katanya. hahahaha. hanya anak-anak (just kidding)

  5. Iyo….semenjak aku gawe gelang soko “gadis penjual post card”, aku sampai saiki ra isoh turu gasik….insomnia, untung gak ngelindur maneh wakakaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s